Metode Tanya Jawab dan Ceramah Masih Mendominasi Proses Pembelajaran Matematika di SLTP, Apa Arti dan Implikasinya?

Oleh: Suparlan *)

Teaching well means helping students learn well.
(Bruce Joyce)

Pada tahun anggaran 2001, Pusat Pengembangan Penataran Guru (PPPG) Matematika Yogyakarta telah mengadakan kegiatan studi tentang kesulitan guru SLTP dalam proses pembelajaran matematika. Kegiatan ini merupakan pelaksanaan salah satu tugas pokok dan fungsi PPPG Matematika, yakni terkait dengan need assessmentdiklat matematika yang sesuai dengan masalah dan kebutuhan para guru matematika di sekolah. Hasil kegiatan ini digunakan sebagai bahan untuk pengambilan keputusan dalam rangka perumusan kebijakan, program, dan kegiatan pendidikan dan pelatihan yang telah, sedang, dan akan dilaksanakan oleh PPPG Matematika.Tulisan singkat ini disusun sebagai ulasan singkat terhadap hasil pengkajian tersebut agar dapat diketahui, tidak hanya oleh pimpinan, tetapi yang lebih penting oleh para guru dan widyaiswara di lembaga pendidikan dan pelatihan guru yang memiliki tugas pokok untuk meningkatkan mutu profesionalisme guru dalam mata pelajaran matematika.

Responden dan Metode

Kota dan provinsi yang digunakan sebagai obyek pengkajian adalah 5 (lima) kota di 5 (lima) provinsi, yakni Balikpapan (Kalimantan Timur), Banjarmasin (Kalimantan Selatan), Maros (Sulawesi Selatan), Denpasar (Bali), dan Lombok Barat (Nusa Tenggara Barat). Masing-masig kota tersebut dipilih secara acak 4 (empat) sekolah yang dijadikan sebegai sekolah responden. Dengan demikian, seluruhnya ada 20 (dua puluh) SLTP, dan masing-masing sekolah ditentukan secara acak 2 (dua) orang guru matematika. Dengan demikian, jumlah guru matematika yang terlibat dalam kegiatan pengkajian ini direncanakan 80 orang. Namun jumlah guru yang benar-benar terlibat dalam kegiatan ini adalah 74 orang, baik sebagai alumni diklat di PPPG Matematika maupun yang belum pernah mengikuti diklat di PPPG Matematika Yogyakarta.

Kegiatan pengkajian tersebut menggunakan seperangkat kuesioner yang harus diisi oleh responden. Hasil jawaban responden kemudian diolah dengan menggunakan metode analisis deskriptif terhadap total prosentase dari frekensi jawaban yang diberikan. Dari keseluruhan pertanyaan yang diajukan, berikut ini hanya akan diulas tentang hasil analisis deskriptif tentang pertanyaan mengenai metode mengajar yang sering digunakan oleh guru matematika SLTP.

Metode Mengajar

Teaching well means helping students learn well. Demikian dinyatakan oleh Bruce Joyce, Marsha Weil, dan Beverly Showers dalam bukunya bertajuk “Models of Teaching”. Proses pengajaran dan pembelajaran yang baik memiliki makna membantu peserta didik untuk dapat belajar dengan baik. Untuk menciptakan proses pengajaran dan pembelajaran yang baik, guru perlu menggunakan metode pembelajaran yang sesuai, baik sesuai dengan karakteristik peserta didik maupun karakteristik mata pelajaran atau pokok bahasannya, serta kemampuan gurunya sendiri. Tidak ada satu metode mengajar yang cocok untuk semua guru, untuk semua siswa, dan untuk semua pokok bahasan yang akan diajarkan. Hal ini selaras dengan kaidah “panasea” yang berarti “tidak ada satu obat yang mujarab untuk semua jenis penyakit”. Demikian juga dengan metode mengajar.

Bruce Joyce menjelaskan bahwa sistem pembelajaran selalu memiliki efek instruktional (instructional effects) dan efek pengiring (nurturant effects) yang diharapkan oleh guru. Efek langsung yang diharapkan dikenal dengan efek instruksional, dan efek yang tidak langsung dikenal dengan efek pengiring. Sebagai contoh, metode “role playing” atau bermain peran secara langsung akan diketahui tentang nilai-nilai dan sikap personal peserta didik, rasa empati yang ditunjukkan oleh siswa, dan memahami cara-cara yang ditempuh untuk memecahkan masalah personal siswa. Secara tidak langsung, dengan metode bermain peran, proses pembelajaran dapat memberikan informasi kepada kita tentang data tentang nilai sosial dan permasalahan sosial yang dihadapi oleh siswa. Contoh lain dengan menggunakan strategi CTL (contextual teaching-learning), siswa diharapkan akan mampu menggunakan pengalaman belajar yang diperoleh di dalam maupun di luar kelas sebagai bekal hidup dalam masyarakat. Secara tidak langsung, dengan CTL siswa diharapkan dapat pula menghargai alam dan lingkungannya.

Di samping itu, setiap metode pembelajaran memiliki kelebihan dan kelemahan masing-masing. Metode ceramah, sebagai misal amat sesuai untuk memberikan informasi baru bagi siswa, namun kurang dapat digunakan untuk meningkatkan aspek keterampilan kepada siswa. Metode tanya jawab digunakan untuk memberikan pemahaman yang lebih mendalam dan luas kepada peserta didik, namun dalam situasi tertentu sulit untuk digunakan dalam kelas yang terlalu besar. Demikian seterusnya dengan metode-metode mengajar lainnya.

Metode Ceramah dan Metode Tanya Jawab masih dominan

Kedua metode ini dapat diklasifikasikan sebagai metode tradisional atau konvensional. Dalam metode ceramah, guru menerangkan dan murid mendengarkan informasi yang disampaikan oleh sang guru. Selesai, habis perkara. Namun demikian, metode ceramah yang lebih bagus dapat menggunakan alat peraga untuk menjelaskan, berupa gambar atau grafik yang digunakan untuk lebih memperjelas informasi. Dalam metode tanya jawab, guru mengajukan pertanyaan-pertanyaan dan siswa menjawabnya, atau sebaliknya siswa bertanya guru menjelaskan. Dalam proses tanya jawab, terjadilah interaksi dua arah. Guru yang demokratis tidak akan menjawabnya sendiri, tetapi akan melemparkan pertanyaan dari siswa kepada siswa atau kelompok lainnya tanpa merasa khawatir dinilai tidak dapat menjawab pertanyaan itu. Dengan dengan metode tanya jawab tidak hanya terjadi interaksi dua arah tetapi juga banyak arah. Ketika anak menanyakan tentang bilangan prima, sebagai misal, guru yang demokratis tidak akan menjelaskan sampai tuntas tentang apa itu definisi bilangan prima, dan kemudian memberikan contoh bilangan prima mulai dari bilangan 2, 3, 5, 7, 13 dan seterusnya. Guru akan bertanya kepada si Amin, bilangan 2 dapat dibagi habis dengan bilangan berapa saja. Amin akan menjawab bahwa bilangan 2 dapat dibagi habis dengan bilangan 1 dan 2. Guru akan menanyakan lebih lanjut kepada Siti tentang bilangan 3. Demikian juga kepada siswa lainnya. Badu, bahkan ditanya tentang bilangan 4 yang tenyata dapat dibagi habis dengan bilangan 1, 2, dan 4. Bahkan, ditanyakan juga dengan bilangan 6, yang ternyata dapat dibagi habis dengan bilangan 1, 2, 3, dan 6. Apa beda bilangan 2 dengan bilangan 4, itulah yang membedakan antara bilangan prima dan bilangan bukan prima.

Dengan demikian, guru dan semua siswa bermain tentang bilangan dan angka dengan perasaan senang (joyful learning), bukan dengan perasaan takut ditunjuk oleh gurunya untuk menjawab pertanyaan, atau diminta untuk menjawab pertanyaan dari guru. Oleh karena itu, penggunaan metode ceramah dan tanya jawab akan lebih efektif jika diikuti dengan metode lain, misalnya penugasan atau latihan, atau demonstrasi.. Bahkan dewasa ini telah muncul beberapa pendekatan baru dalam proses pembelajarn matematika telah mulai popular, misalnya cooperative learning, integrative learning, dan realistic mathematics education atau contextual learning sebagaimana yang telah disebutkan di muka.

Hasil Kajian, Arti, dan Implikasinya

Pengkajian ini telah menghasilkan temuan bahwa 84% guru matematika SLTP masih sering menggunakan metode tanya jawab. Selain itu, 76% guru matematika SLTP juga masih sering menggunakan metode ceramah. Bahkan, setelah ceramah dan tanya jawab, sang guru kelihatannya juga terbiasa dengan menggunakan metode pemberian tugas. Hal ini terlihat 65% guru matematika SLTP juga biasa menggunakan metode pemberian tugas tersebut.

Prosentase kebiasaan penggunaan metode tersebut amat jauh berbeda jika dibandingkan dengan kebiasaan dalam menggunakan metode lain, misalnya metode pemecahan masalah (5%) dan metode penemuan (11%). Apa arti semua itu? Apa pula implikasinya? Beberapa catatan dapat diberikan dalam tulisan ini.

Pertama, temuan tersebut juga menunjukkan bahwa para guru matematika SLTP masih terikat dengan tradisi penggunaan metode-metode yang konvensional, khususnya metode ceramah, tanya jawab, dan pemberian tugas. Seorang widyaiswara (WI) PPPG Matematika sering menunjukkan bahwa selama ini para guru kita masing sering menggunakan metode “halo-halo pengumuman”, yang nota bene sama dengan metode ceramah. Dinyatakan lebih lanjut oleh sang widyaiswara, bahwa pada umumnya guru matematika yang akan mengajarkan luas segitiga, sang guru akan berkata “halo-halo anak-anak, luas segitiga adalah setengah alas kali tinggi”. Seorang siswa ada yang kritis bertanya: “mengapa kok setengah alas, bukan sepertiga, atau seperempat?”. Sang guru dengan berang menjawab ketus: “ya itulah rumusnya, goblok”. Kalau cara ini yang masih sering dilakukan para guru, maka di sinilah awal dari kesalahan model pembelajaran kita.

Kedua, implikasi penting dari hasil temuan tersbut adalah perlunya guru matematika memiliki pemahaman dan keterampilan dalam penggunaan pendekatan baru dan metode yang selaras dengan PAKEM (pembelajaran aktif, kreatif, efektif, dan menyenangkan).

Ketiga, implikasi lainnya, dan ini yang terpenting, Pusat Pengembangan Penataran Guru (PPPG) Matematika Yogyakarta harus lebih banyak memberikan pendidikan dan pelatihan dalam penggunaan model pembelajaran baru dan metode yang dapat meningkatkan aktivitas, kreativitas kepada siswa, dan pendekatan yang dapat menimbulkan suasana pembelajaran yang menyenangkan (joyful learning). Hal ini amat penting, karena salah satu misi PPPG Matematika Yogyakarta adalah meningkatkan citra matematika sebagai mata pelajaran yang menyenangkan. Dengan kata lain, peningkatan pemahaman dan keterampilan guru dalam pembelajaran yang menyenangkan harus menjadi satu kebijakan, program, dan kegiatan PPPG Matematika Yogyakarta. Untuk itu, berbagai kegiatan seperti lomba pembelajaran matematika yang menyenangkan untuk guru harus menjadi kegiatan unggulan PPPG Matematika Yogyakarta, mulai dari tingkat kabupaten/kota sampai dengan tingkat nasional. Demikian juga dengan Lomba Kelompok Ilmiah Remaja mata pelajaran matematika seharusnya menjadi kegiatan PPPG Matematika Yogyakarta.

Simpulan

Dari uraian singkat tersebut di atas, berikut ini dapat dirangkai beberapa simbulan sebagai berikut:

  • Kajian tentang kesulitan guru SLTP dalam proses pembelajarn matematika yang dilaksanakan PPPG Matematika Yogyakarta ini dinilai sebagai temuan yang amat penting. Hasil kajian ini merupakan satu bentuk training need assessment (TNA) yang akan digunakan untuk merumuskan kebijakan, program, dan kegiatan dalam pendidikan dan pelatihan yang akan dilaksanakan PPPG Matematika Yogyakarta.
  • Dari hasil kajian tersebut, dapat diketahui bahwa metode ceramah dan tanya jawab masih mendominasi dalam proses pembelajaran matematika di SLTP.
  • Dalam rangka pelaksanaan misi PPPG Matematika, yakni membangun atau meningkatkan citra matematika sebagai mata pelajaran yang menyenangkan, maka penguasaan guru mengenai strategi, pendekatan, model, dan metode pembelajaran yang menyenangkan harus menjadi materi utama dalam kegiatan pendidikan dan pelatihan di PPPG Matematika Yogyakarta.

Referensi

  • 2001. Laporan Hasil Kajian Kesulitan Guru Matematika SLTP. Yogyakarta: PPPG Matematika Yogyakarta.
  • Bruce Joyce, Marsha Weil, and Beverly Showers. 1992. Models of Teaching. Boston: Allyn and Bacon.

*) Website: www.suparlan.com; E-mail: me [at] suparlan [dot] com. Kepala Bidang Pelayanan Teknis PPPG Matematika Yogyakarta.

Yogyakarta, 20 Juni 2003

Komentar

*