Dahsyatnya Tsunami, dan Hikmah yang Terkandung di Dalamnya

Oleh Suparlan *)

Alam tidak pernah bercanda.
Alam selalu menunjukkan kebenaran. Alam selalu serius, selalu tegas. Alam selalu benar, dan kesalahan-kesalahan serta kelaian-kelalaian yang ada pastilah ulah manusia. Manusia tidak mampu menghargai alam, dia hinakan, dan hanya pada ketepatan, kemurnian, dan kebenaranlah dia menarik dirinya dan membuka semua rahasianya
(Johann Wolfgang von Goethe)

Ada penderitaan dan kegagalan dalam kehidupan ini. Tiada orang yang dapat menghindari itu semua. Namun, lebih baik gagal dalam perjuangan meraih cita-cita daripada gagal tanpa pernah tahu rasanya berjuang
(Paulo Coelho, novelis Brazil)

Pada tanggal 8 Agustus 2009 lalu, alhamdulillah saya dapat memenuhi undangan Majelis Dewan Pendidikan (MPD) Provinsi Nangroe Aceh Darussalam (NAD) untuk berbicara tentang mutu pendidikan. Baru pertama kali ini saya menginjakkan kaki di bumi Serambi Mekah ini. Dari tiga puluh tiga provinsi, tinggal dua provinsi yang belum saya kunjungi, yaitu NAD dan Maluku Utara. Setelah NAD berhasil saya kunjungi, kini tinggal satu provinsi lagi yang belum saya kunjungi, yaitu Maluku Utara.

Bagi saya, kunjungan saya ke NAD merupakan satu kebahagiaan tersendiri yang sangat luar biasa. Pertama, saya dapat menyampaikan materi tentang mutu pendidikan, yang sekarang ini telah menjadi pilar kebijakan pembangunan pendidikan yang harus menjadi prioritas. Kedua, saya dapat melihat dengan mata sendiri dampak tsunami yang telah memporakporandakan provinsi yang terkenal dengan sebutan Serambi Mekah ini. Justru yang kedua ini, bagi saya, menjadi bagian yang sangat menarik untuk ditulis dalam artikel in. Dalam tulisan ini, justru akan mencoba menjelaskan tentang hikmah terbesar dari tsunami bagi bangsa dan negara kita, Indonesia.

Sedikit Tentang Tsunami

Secara etimologis, tsunami berasal dari kata dalam Bahasa Jepang, yaitu tsu yang artinya pelabuhan, dan nami yang artinya gelombang. Dengan demikian, tsunami tidak lain adalah gelombang laut yang mengenai kawasan pantai. Dalam buku bertajuk Indonesia Di Antara Berkah dan Musibah yang disusun oleh Kementerian Negara Riset dan Teknologi, dinyatkan bahwa selama periode 1600 sampai 2005, di Indonesia telah terjadi lebih dari 105 kejadian tsunami. Dari semua kejadian itu, 90% di antaranya disebabkan oleh gempa tektonik, 9% karena letusan gunung berapi, dan hanya 1% yang dipicu oleh penyebab karena tanah longsor. Kejadian tsunami di NAD pada tahun 2004 yang lalu termasuk tsunami yang disebabkan oleh gempa tektonik. Sebagaimana telah kita ketahui, tsunami di NAD yang terjadi pada taggal 26 Desember 2004 merupakan tsunami terbesar di Indonesia, bahkan di dunia dengan korban meninggal lebih dari 250.000 orang.

Sebelum saya kembali ke Jakarta, panitia Rapat Kerja MPD, Bapak Salman Ishak, Kepala Sekretariat MPD Provinsi NAD telah mengantarkan kami melihat-lihat bekas kegaganasan tsunami, mulai dari Kapal PLTD Terapung yang terdampar di tengah-tengah rumah penduduk, museum tsunami yang tampak artistik, masjid di tepi pantai yang masih utuh, Masjid Baiturrahman, tempat pemakaman missal. Kini tempat-tempat yang dulu telah poranda karena tsunami itu telah menggeliat kembali, misalnya jalan raya telah dibangun, rumah-rumah yang luluh lantak telah dibangun kembali. Bahkan, took-toko yang pada massa tsunami telah hancur kini telah beroperasi kembali.

Dua Keluarbiasaan Fenomena Tsunami dan Rasionalnya

Ada beberapa kejadian yang dipandang sebagai satu keluarbiasaan, bahkan sering dikatakan sebagai misteri yang tidak dapat dipercaya dengan nalar sehat, sebagai contoh adalah beberapa fenomena sebagai berikut:

Pertama, Kapal PLTD Terapung yang kini berada di tengah-tengan perumahan penduduk. Kapal itu ditambat di pantai Selat Sabang, yang jaraknya tidak kurang dari 5 km dengan lokasi yang sekarang. Kapal itu entah berapa kg bobotnya. Yang jelas panjangnya 93 m dan lebarnya 19 m. Bagaimana kapal sebesar itu telah dibawa ombak tsunmi sejauh 5 km menuju kawasan di tengah-tengah perumahan penduduk. Artinya, Kapal PLTD itu telah diseret gelombang setinggi antara 20 – 30 m di atas rumah-rumah penduduk. Sampai hari ini, masih banyak warga masyarakat yang berduyun-duyun melihat dengan mata kepala sendiri kapal PLTD terapung itu, untuk melihat kedahsyatan tsunami yang telah memporakporandakan NAD. Bagaimana tsunami itu telah memindahkah kapal PLTD terapung itu ke tengah-tengah perumahan itu? Kejadian itu dapat terjadi karena gelombang tsunami itu dapat terjadi setinggi itu. Sebagai contoh, tsunami yang disebabkan oleh letusan Gunung Krakatau pada tahun 1883 telah menyebabkan gelombang tsunami setinggi 40 m yang menyapu pantai Provinsi Lampung dan Banten (Indonesia Di Antara Berkah dan Bencana, 2009: 84). Dengan gelombang setinggi itu, maka kapal PLTD terapung tentu saja telah terapung di atas rumah-rumah penduduk dan kemudian gelombang dahsyat itu telah membawanya sejauh 5 km.

Kedua, Masjid di tepi pantai telah selama dari pengaruh gelombang tsunami yang dahsyat itu. Semua rumah telah ambruk, semua gedung telah runtuh oleh kedahsyatan gelombang tsunami, tetapi banyak masjid yang selamat dari amukan tsunami. Tentu saja, semua itu terjadi hanya karena kekuasaan Allah semata. Tetapi dalam hal ini, Allah telah memberikan kemampuan kepada manusia sebagai mahluk yang tertinggi derajatnya untuk berfikir secara rasional. Mengapa hal itu bisa terjadi? Alasan pertama, masjid-masjid itu telah dibangun oleh masyarakat dengan konstruksi yang cukup kuat. Hal itu terjadi karena rakyat tidak mengurangi kualitas bahan-bahan yang telah digunakan untuk membangun masjid-masjid itu. Selanjutnya, konstruksi masjid yang telah dibangun dengan banyak jendela, lubang angin, bahkan banyak jalan masuk dengan pilar-pilar lingkar itu. Dengan demikian, gelombang tsunami yang kuat yang menerjang masjid itu tidak menerjang, tetapi hanya lewat saja. Nah dengan demikian, gelombang itu tidak merusaknya.

Hikmah Terbesar

Kalau kita renungkan secara mendalam, beberapa hikmah yang dapat kita petik dari peristiwa alam yang telah diatur oleh Allah SWT ini, antara lain adalah sebagai berikut:

Pertama, kesadaran tentang kebesaran Allah SWT. Peristiwa tsunami harus dapat menyadarkan kita bahwa kekuasaan itu memang hanyalah milik Allah SWT semata-mata. Alam dan seisinya adalah ciptaan-Nya, dan oleh karena itu pada saatnya nanti akan kembali ke hadirat-Nya. Terhadap alam ciptaan-Nya manusia dapat mengubah jika memiliki kapabelitas dan kesempatan yang  kita miliki. Namun, semua itu, kita harus mampu menyesuaikannya. Kesadaran ini harus menjadi landasan moral untuk membangun negara dan bangsa yang berbhinneka tunggal ika ini.

Kedua, peristiwa tsunami seharusnya dapat meningkatkan rasa syukur kepada Allah SWT. Alam tanah air kita memiliki kaaneragaman geografis, geologis, dan sosial budaya yang sangat kaya. Peristiwa tsunami yang terjadi di negeri tercinta ini merupakan bagian yang tak terpisahkan dari keanekaragaman geografis, geologis, dan sosial budaya di tanah air Indonesia. Itulah sebabnya, peristiwa tsunami harus dapat kita jadikan sebagai momentum untuk dapat meningkatkan rasa syukur kita kepada Tuhan Yang Maha Kuasa.

Ketiga, khusus tsunami di NAD, kita melihat bahwa hikmah yang terkandung di dalamnya adalah terjadinya rekonsiliasi para pemimpin di republik ini, setelah terjadinya konflik yang berkepanjangan. Tsunami telah menjadi tali pengikat kembali persatuan dan kesatuan nasional Indonesia. Dirgahayu Republik Indonesia! Amin.

*) Website: www.suparlan.com; E-mail: me [at] suparlan [dot] com.

Bahan Pustaka:

  • Kementerian Negara Riset dan Teknologi. 2009. Indonesia Di Antara Berkah dan Musibah.

Depok, 9 Agustus 2009.

Komentar

*