Dari Alam Kembali ke Alam

Oleh Suparlan *)

A man may die, nations may rise and fall, but an idea lives on
(John F. Kennedy)

Setiap pagi berangkat ke kantor, saya selalu melalui bundaran UI di Kota Depok. Bundaran UI itu merupakan kawasan taman kota untuk kota Depok. Setiap kali melewati taman kota di bundaran UI itu, saya selalu memperhatikan tentang apa yang terjadi dengan taman kota itu. Beberapa petugas itu menyapu sampah daun yang berserakan di taman. Sama dengan beberapa petugas yang sedang menyapu jalan, mengumpulkan sampah yang berserakan di tepi jalan. Saya sempat mengucapkan salut kepada mereka yang dengan rajinnya bekerja memelihara taman. Kalau tidak ada mereka, sudah tentu taman kota itu akan entah menjadi apa. Tetapi  sungguh saya menjadi terkejut ketika melihat sampah-sampah yang telah berhasil dikumpulkan itu ternyata dibakarnya. Asap pun mengepul di tengah-tengah taman kota itu.

Beberapa pertanyaan di benak saya pun muncul. Kenapa harus dibakar? Apakah memang ada petunjuk dari pimpinan untuk membakar sampah organik itu? Apa tidak ada cara lain? Timbullah gagasan dan pemikiran tentang bagaimana sebenarnya upaya yang terbaik untuk memelihara taman kota itu.

Pecinta Tumbuh-Tumbuhan dan Tanam-Tamanan

Kebetulan penulis memang berasal dari desa yang ketika masih anak-anak sangat lengket dengan urusan alam dan tanam-tamanan. Sejak kecil, kakek sering membawa penulis pergi ke sawah, dan ladang untuk menyiangi padi dan tanam-tanaman. Oleh karena itu, ketika telah menjadi dewasa dan bahkan telah menjadi tua, saya menjadi seorang pecinta tumbuh-tumbuhan dan tanam-tamanan. Sungguh, saya berani menyatakan diri sebagai pecinta tanam-tanaman. Untuk itu, saya memelihara pelbagai macam tanaman di rumah, baik di halaman maupun di dalam pot. Mengurus tumbuh-tumbuhan dan tanam-tanaman menjadi salah satu bagian penting dalam kegiatan sehari-hari saya setiap pagi sebelum berangkat ke kantor. Saya memelihara pelbagai macam tanam-tanaman. Ada tanaman bunga anggrek, ada tanaman dalam pot, dan bahkan juga ada beberapa tanaman obat-obatan seperti sambiloto, brotowali, kumis kucing, dan sebagainya. Ya, sekali lagi, saya menjadi pecinta tumbuh-tumbuhan dan tanam-tanaman.

Membuat Humus Sendiri

Untuk keperluan menanam tanam-tanaman, saya malah dapat membuat humus sendiri. Daun dan ranting yang sudah tua, saya potong-potong kecil dan kemudian saya masukkan ke dalam pot. Setiap pagi urusan memotong-motong daun dan ranting tua menjadi kegiatan sehari-hari. Untuk ini, saya sampai memiliki tiga gunting khusus untuk kegiatan potong-memotong ini. Bahkan saya siap dengan kaus tangan untuk kegiatan gunting-mengunting ini. Itulah sebabnya, saya tidak banyak membeli pupuk untuk tanam-tanaman saya. Saya hanya mengandalkan humus dari alam. Dalam pot saya tidak terlihat tanah secara langsung, tetapi terlihat guntingan ranting dan dedaunan tanam-tanaman yang tampak lebih bersih. Saya mempunyai prinsip “dari alam kembali ke alam”.

Memelihara Taman Kota, Kenapa Tidak?

Untuk memelihara taman kota, mengapa tidak dilakukan cara saya dalam memelihara tanam-tanaman di rumah tersebut? Mengapa harus membakar sampah organik? Mengapa tidak menjadikannya sebagai humus. Ohhh, sayang sekali kalau hanya dibakar.

Untuk mengumpulkan dedaunan dan ranting di taman, di sela-sela pohon dalam taman itu, kita dapat membuat lubang tempat menyimpan sampah organik itu. Bahkan lubang sampah ini dapat menjadi biopori buatan. Tidak perlu terlalu dalam. Cukup setengah meter saja paling dalam. Tanah hasil galian dapat diletakkan di bagian bawah pohon, atau diletakkan saja di dekat lubang sampah itu. Ranting dan dedaunan yang sudah mulai menguning dapat dipangkas dan dicacah atau digunting-gunting dan dimasukkan ke dalam lubang itu, sampai timbunan sampah organik itu menjadi penuh dan lapuk menjadi humus. Kalau timbunan sampah organik sudah menjadi hubus, maka tanahnya dapat dikembalikan untuk menutup lubang sampah itu lagi. Lalu, akan digunakan untuk apa? Kalau boleh menanam tanaman produktif, galian tempat sampah organik dapat ditanami tanam-tanaman oproduktif, seperti pepaya, atau apa saja. Dengan cara ini, para petugas dapat memperoleh penghasilan tambahan.

Kalau tidak boleh ditanami dengan tanaman produktif, maka dapatlah ditanam tanam-tanaman bunga beraneka ragam. Dengan demikian, taman kota kita menjadi lebih indah karena banyak tanaman bunganya. Sungguh, sampah organik di tanam kota tidak harus  dibuang entah ke mana. Cukup disimpan di lubang sampah, dan kemudian menjadi humus yang dapat membuat subur tanah di taman itu. Sungguh, berlakulah prinsip “dari alam kembali ke alam” untuk memelihara taman kota kita.

Jalur Hijau

Sama halnya dengan jalur hijau di banyak tempat di dalam dan du luar kota. Di Depok, konon dikenal sebagai “Kota Belimbing”. Namun, pohon belimbing yang ditanam di tepi jalan kereta api juga kurang terurus dengan baik. Seperti memelihara taman kota, jalur hijau pun dapat dipelihara dengan cara yang sama. Rumput-rumput yang tumbuh tidak teratur dapat dipotong-potong dan dimasukkan ke dalam lubang sampah yang dibuat di sela-sela pohon yang ada. Bahkan, potongan sampah organik itu dapat dikumpulkan di bawah pohon belimbing. Dengan demikian, sampah organik tersebut akan menjadi humus yang diperlukan untuk menyuburkan pohon belimbing. Ketika melihat kondisi jalur hijau yang tidak terurus itu, tangan ini terasa ingin memotong-motong ranting dan dedaunan yang tidak rapi, dan memotong-motong rumput liar yang tumbuhnya tidak rapi untuk dikumpulkan di bawah pohon di jalur hijau itu atau di bawah pohon belimbing yang kelihatan tidak terawat itu. Lagi-lagi pengurusan jalur hijau pun perlu dilakukan dengan prinsip “dari alam kembali ke alam”.

Akhir Kata

Tulisan ini memang sangat singkat. Tetapi tulisan ini disusun dari niat yang kuat, dan dari hati yang paling dalam, berdasarkan pengalaman yang telah dilaksanakan sehari-hari. Mudah-mudahan, tulisan singkat ini bermanfaat bagi kita semua. Amin.

*) Website: www.suparlan.com; E-mail: me [at] suparlan [dot] com.

Depok, 25 Mei 2012.

Komentar

Apabila Anda punya pertanyakan silakan kirimkan pertanyaan Anda ke http://masdik.com/pertanyaan/

*