Hari Pertama Puasa Ramadan

Oleh Suparlan *)

O you who believe! Observing fasting is prescribed for you as it was prescribed for those before you, that you may become pious [Qur’an: 002.183]

The month of Ramadan in which was revealed the Qur’ân, a guidance for mankind and clear proofs for the guidance and the Criterion (between right and wrong). So, whoever of you sights (the crescent on the first night of) the month (of Ramadan), he must observe fasts that month, and whoever is ill or on a journey, the same number [of days which one did not observe (fasts) must be made up] from other days… [Qur’an: 002.185]
Source(s): To learn more about Islam and Muslims see

Ya Allah, hari pertama Bulan Puasa telah 1340 H telah tiba. Seakan tidak terasa waktu setahun telah terlewati. Kesibukan dalam berbagai urusan telah ‘melupakan’ perjalanan waktu setahun yang lalu itu. Tanpa terasa tibalah hari pertama Bulan Puasa ini. Ahlan wasahlan ya Ramadan. Marhaban ya Ramadan. Marilah kita sambut bulan penuh berkah ini dengan suka cita. Amin.

Inilah kata-kata yang tak terucap — yang ada dalam hati yang paling dalam —  ketika saya menerima kadatangan hari pertama Bulan Puasa tiba ketika usia sudah di ujung senja ini. Inilah yang telah terjadi. Apa boleh buat. Yang lalu biarlah berlalu. Masa lalu akan menjadi sejarah bagi siapa saja yang  yang mau belajar, termasuk diri sendiri yang telah menjadi aktor dalam peristiwa ini. Astagfirullah. Mudah-mudahan Allah mengampuni dosa-dosa hamba setahun ke belakangan ini. Amin.

Nuansa Teknologi Informasi

Pada tahun lalu, nuansa dunia teknologi informasi dalam bulan Puasa Ramadan belum begitu terasa secara kental. Yaaaaa, mungkin saja sudah. Tetapi untuk saya, mulai tahun inilah nuansa itu sungguh telah merasuk ke dalam kehidupan keagamaan saya. Betapa tidak. Dalam dua hari sebelum memasuki hari pertama Bulan Puasa Ramadan tiba, saya telah menerima tidak kurang dari dua puluh SMS ucapan selamat menunaikan ibadah Puasa Ramadan dari teman-teman, yang dekat atau yang jauh, yang saudara dekat atau saudara jauh, yang telah lama akrab atau yang masih baru saja kenal. Oleh karena menarik dan spesialnya ucapan-ucapan itu, maka saya telah menyimpannya secara khusus dalam sebuah artikel, dan telah saya simpan secara khusus dalam menu artikel di dalam website saya www.suparlan.com.

Salah satu ucapan yang menurut saya memiliki nilai religius yang tinggi adalah SMS yang telah saya terima dari teman kantor, yang bunyinya sebagai berikut:

”Perkataan yang terindah adalah ALLAH; lagu yang terindah adalah ADZAN; media yang terbaik adalah AL QUR’AN; senam yang tersehat adalah SHALAT; diet yang paling sempurna adalah PUASA; kebersihan yang paling menyegarkan adalah WUDHU; perjalanan terindah adalah HAJI; khayalan yang terindah adalah INGAT AKAN DOSA DAN TAUBAT”

Teman kantor yang telah mengirimkan kepada saya ucapan itu sering saya sebut Mas Riyanto. Bukan apa. Saya tidak yakin yang menulis ucapan-ucapan itu adalah Mas Riyanto sendiri. Ucapan itu pasti telah dikirimkan oleh seseorang kepada Mas Riyanto. Lalu, siapa yang pertama kali telah menulisnya? Wallahu alam bishawab. Pasti saya akan menanyakan kepada Mas Riyanto di kantor nanti. Mudah-mudahan para pembaca artikel ini dapat memberikan jawaban terhadap pertanyaan saya ini. Siapakah penyusun ucapan tersebut.

Nah, ketika saya menulis artikel ini, saya menerima lagi ucapan dari Bapak Prof. Waru Walidin, guru besar Universitah Syah Kuala Banda Aceh, sekaligus Ketua Majelis Pendidikan Provinsi Nangroe Aceh Darussalam. Guru besar yang energik ini mengirimkan ucapan cukup singkat sebagai berikut.

Marhaban yang Ramadan. Bulan penuh kasih sayang. Rahmat dan keampunan. Mohon maaf lahir batin. Selamat menunaikan Ibadah Puasa (Warul Walidin AK dan keluarga)

Nah itulah nuansa baru teknologi informasi yang saya rasakan pada saat menjelang dan memasuki hari pertama Bulan Puasa Ramadan 1340 H ini. Dua contoh ucapan menjelang dan memasuki Bulan Puasa Ramadan tahun 1340 H yang telah saya kemukakan dalam artikel ini mudah-mudahan dapat menjadi bahan pelajaran bagi kita semua. Amin.

Perlu Persiapan

Secara fisik, terus terang saya tidak atau kurang melakukan persiapan secara spesifik untuk menghadapi Bulan Puasa kali ini. Saya juga tidak melakukan puasa Senin Kamis seperti tahun-tahun sebelumnya. Inilah yang menyebabkan saya kecewa, karena — sekali lagi — saya terlalu disibukkan dengan urusan pekerjaan. Padahal ayah saya telah memberikan contoh bahwa Puasa Senin Kamis kepada anak-anaknya, termasuk saya. Ketika saya pergi ke Ponorogo dan bertemu ahli Puasa Nabi Daud, satu hari puasa, satu hari tidak, membuat saya begitu terpukul, karena apalagi Puasa Nabi Daud, puasa Senin dan Kamis pun tidak. Ini menjadi catatan bagi saya, mudah-mudahan Puasa Ramadan tahun depan saya dapat melakukan persiapan dengan melakukan puasa sunah terlebih dahulu.

Alhamdulillah, persiapan lain dapat saya lakukan, misalnya dengan membangun komunitas dengan sesama orang-orang soleh. Melalui jaringan ini, saya dapat melakukan saling ingat mengingatkan, termasuk mengingatkan tentang kedatangan bulan seribu bulan ini. Dengan saling mengingatkan tersebut, saya dapat memiliki semangat yang cukup kuat untuk menghadapi kedatangan Bulan Puasa. Semangat yang kuat ini memberikan modal tersendiri bagi saya untuk siap menghadapi Bulan Puasa. Ternyata, semangat menjadi modal yang penting di samping persiapan-persiapan fisik. Kedua persiapan itu saling melengkapi dan saling mempengaruhi. Semangat untuk siap melaksanakan perintah dalam Al Qur’an, surat 002.183 yang sengaja saya kutip dalam awal tulisan ini telah berhasil mengokohkan niat saya. ”O you who believe! Observing fasting is prescribed for you as it was prescribed for those before you, that you may become pious”. “Wahai orang-orang yang beriman, berpuasalah kamu, sebagaimana telah diperintahkan kepada umat-umat sebelum kamu, mudah-mudahan kamu menjadi orang yang bertakwa”.

Sekali lagi, alhamdulillah, dalam memasuki hari pertama puasa, saya dan keluarga telah siap melaksanakan jihad terbesar, yakni memerangi hawa nafsu. Insyaallah, Puasa Ramadan pada tahun ini dapat terlaksana dengan lancar dan memperoleh berkah yang berlipat ganda dari Allah SWT. Amin.

Dukungan dari Dapur

Suasana bulan puasa menjadi berbeda ketika kita bandingkan dengan bulan-bulan lainnya, antara lain dari suasana dapurnya. Istri dan pembantunya tentu saja telah sibuk sejak kemarin dengan membeli sedikit bahan-bahan makanan untuk Bulan Puasa. Menjelang subuh tiba, dapur pun mulai beroperasi. Bunyi gemericik air, bunyi suara kecil gemerincing suara piring dengan perangkat lainnya, menjadi musik dari dapur yang ikut menghiasi suasana malam pertama dan malam-malam berikutnya Bulan Puasa. Tanpa semua itu, mustahil Bulan Puasa dapat kita jalani dengan lancar. Untuk ini, sudah sepan-tasnya jika para keluarga menyampaikan penghargaan yang tinggi dan ucapan terima kasih kepada semua istri dan para pembantu yang telah memberikan dukungan tersendiri terhadap pelaksanaan ibadah puasa ini. Amin.

Akhir Kata

Hari pertama puasa telah dapat saya lalui dengan lancar. Kekhawatiran tidak kuat melaksanakan puasa, karena kurang persiapan secara fisik, telah ditebus dengan cara lebih memantapkan semangat. Dukungan semangat dari teman dan kerabat, serta dukungan dari istri dan anak-anak telah menjadi modal dasar yang besar untuk dapat melaksanakan jihad terbesar dalam kehidupan ini, yakni puasa, Puasa Ramadan.

*) Website: www.suparlan.com; E-mail: me [at] suparlan [dot] com.

Jakarta, 24 Agustus 2009.

Komentar

Apabila Anda punya pertanyakan silakan kirimkan pertanyaan Anda ke http://masdik.com/pertanyaan/

*