Laporan Kegiatan Fasilitasi Workshop Pengembangan Madrasah Terpadu Untuk MTs – PSA

LAPORAN KEGIATAN
FASILITASI WORKSHOP PENGEMBANGAN MADRASAH TERPADU UNTUK MTs – PSA (MADRASAH TSANAWIYAH – PESANTREN SATU ATAP) PENERIMA BANTUAN AIBEP KAWASAN BOGOR DI INNA SAMUDRA BEACH HOTEL PELABUHAN RATU, KABUPATEN SUKABUMI
TANGGAL 6 – 11 FEBRUARI 2010

Oleh: Suparlan *)

Pengantar

Dua kali komunikasi via HP dari MCPM kepada saya telah menghasilkan kesepakatan bahwa saya harus berangkat ke satu daerah yang belum pernah saya kunjungi, yakni Inna Samudra Beach Hotel, Kabupaten Sukabumi. Keberangkatan saya tersebut adalah untuk menjadi fasilitator dalam kegiatan workshop Pengembangan Madrasah Terpadu untuk MTs-MTs dari kawasan Bogor yang telah memperoleh bantuan dari AIBEP (Australia-Indonesia Basic Education Project).

Saya memperoleh informasi tentang kegiatan workshop ini melalui SMS dari MCPM AIBEP. Dalam SMS tersebut disebutkan bahwa DC yang akan bertanggungjawab terhadap segala sesuatu tentang kegiatan workshop adalah Bapak Yusuf Sumarja, yang kemudian baru saya ketahui adalah DC dari Kementerian Agama, yang kini telah pindah dari Kementerian Agama Kabupaten Sukabumi ke Kementerian Agama Provinsi Jawa Barat. Lebih lanjut saya kemudian berkomunikasi dengan beliau untuk menanyakan tentang hal-hal yang terkait dengan tempat kegiatan, jadwal kegiatan, dan sebagainya.

Perjalanan Panjang

Kegiatan workshop Pengembangan Madrasah Terpadu menurut informasi dari DC akan dilaksanakan pembukaan pada pukul 20.00 WIB. Dengan ancar-ancar tersebut, saya berangkat dari Depok pukul 13.00 WIB, dengan harapan perjalanan tidak mengalami kemacetan pada hari Sabtu, tanggal 6 Februari 2010. Hari yang memang sangat riskan, karena konon biasanya malam Minggu banyak orang yang akan bermalam minggu di hotel yang lokasinya di tepi pantai Samudera Indonesia ini.

Ahmdulillah, meskipun jalan raya menuju lokasi workshop ini tidak seluruhnya mulus, dengan belokan ”huruf S” yang cukup banyak, bahkan dalam perjalanan juga beberapa kali mengalami kemacetan gara-gara akibat pasar tumpah, akhirnya saya dapat sampai ke lokasi kegiatan sekitar pukul 08.00 WIB, tepat waktu workshop dimulai. Saya masuk ruangan sidang untuk pembukaan workshop tepat pada saat panitia sedang mempersiapkan acara pembukaan, seperti sound system sedang dipersiapkan.

Acara Pembukaan Workshop

Hari Pertama

Saya langsung memasuki ruangan pembukaan workshop di Lantai 2 Inna Samudra Beach Hotel tersebut. Saya duduk menyamar bersama peserta setelah berjabatan tangan kepada peserta yang telah duduk lebih dahulu.

Acara pembukaan workshop disampaikan oleh pembaca acara (MC), yang kemudian dilanjutkan acara pembacaan acara pembacaan kalam Illahi oleh salah seorang peserta. Acara selanjutnya adalah laporan kegiatan workshop disampaikan oleh Bapak Yusuf Sumarja. Pada saat itulah disebutkan oleh beliau bahwa dalam acara workshop ini akan dihadiri oleh National Trainer, yaitu Bapak Suparlan. Pada saat itulah saya berdiri dan melambaikan tangan kepada DC dan peserta, serta Bapak Bahrum Ulum, yang mewakili Kepala Kementerian Agama Kabupaten Sukabumi, yang akan membuka secara resmi kegiatan workshop Pengembangan Madrasah Terpadu ini. Dalam acara pidato sambutan dan pembukaan workshop secara resmi, Bapak Bahrul Ulum menyampaikan tentang pentingnya kegiatan ini. Gedung madrasah di Bogor ini telah memperoleh bantuan dari Pemerintah Australia, dan kemudian untuk meningkatkan kualitas penyelenggarannya, para kepala sekolah, pengawas sekolah, guru, dan Komite Madrasahnya telah mengikuti kegiatan workshop, mulai dari putaran I, dan sekarang ini adalah putaran II, serta akan dilanjutkan dengan putaran III.  Kegiatan workshop ini kemudian dibuka secara resmi dengan mengucapkan ”Bismillahirrohmanirrohim”.

Acara selanjutnya adalah menyanyikan Hyme MTs-PSA. Semua peserta diminta berdiri untuk bernyanyi bersama dengan nyanyian yang dipuat melalui tape recorder khusus untuk ini. Acara ini menurut saya cukup baik, karena peserta dengan khusuk menyanyikan dan mencoba menghayati makna lagu yang dinyanyikan bersama-sama ini. Hymne MTs-PSA ini konon digubah oleh Kementerian Agama Kabupaten Sukabumi, dan ini merupakan satu aspek positif tersendiri.

Kegiatan Workshop

Hari Kedua

Pada pukul 07.30 WIB acara workshop hari kedua dimulai dengan acara Review Hasil Kegiatan Putaran I, yang disampaikan oleh pelatih dari Kabupaten Sukabumi. Dalam kegiatan ini peserta diingatkan bahwa KTSP yang telah disusun sebagai Rencana Tindak Lanjut (RTL) dari kegiatan putaran I, akan disempurnakan pada putaran II ini. Diharapkan para peserta telah membawa draft KTSP itu. Diharapkan draft tersebut akan difinalkan dalam putaran II ini. Dalam hal ini, semua peserta telah membawa draft tersebut. Bahkan KTSP tersebut akan terus disempurnakan terus menerus secara berkelanjutan.

Setelah paparan tentang Review KTSP selesai disampaikan, peserta diminta oleh penyaji menyampaikan perkembangan terakhir proses penyusunan KTSP yang telah dilakukan oleh MTs.

Salah seorang kepala sekolah diminta untuk menyampaikan laporannya. Kepala sekolah ini menjelaskan bahwa setelah kegiatan putaran I, semua stakeholder diundang untuk mengikuti rapat kerja untuk menyusun KTSP. Dengan kegiatan inilah kemudian draft KTSP tersebut dapat diselesaikan sesuai dengan rencana, tentu saja dengan segala kelebihan dan kekurangannya.

Seorang peserta yang lain menyampaikan tentang pentingnya aspek pelaksanaan KTSP itu sendiri. Peserta ini berpendapat bahwa menyusun KTSP itu mudah, bahkan dapat diperoleh dan diunduh melalui internet. Tetapi yang terpenting adalah pelaksanaanya. Oleh karena itu, peserta ini meminta agar pantia lebih mementingkan aspek pelaksanaan KTSP ini. Peserta yang lainnya lagi menyampaikan telah masalah penting yang harus dipecahkan oleh madrasah, yakni masalah akhlak peserta didik dewasa ini.

Demikian seterusnya, peserta telah selesai menyampaikan pandangannya tentang proses penyusunan KTSP di sekolahnya masing-masing. Setelah itu, saya diminta giliran untuk menyampaikan semacam penguatan terhadap materi penyusunan KTSP ini. Pada saat inilah saya menyampaikan beberapa hal sebagai berikut:

Pertama, saya menyampaikan penghargaan dan terima kasih kepada peserta yang telah mengikuti kegiatan workshop ini dengan semangat.

Kedua, saya menyampaikan tentang pentingnya pemahaman kita tentang pendidikan nasional sebagai suatu sistem, yang telah diatur dalam UU Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Allah SWT telah menciptakan semua ciptaannya dalam satu sistem. Makna sistem itu selalu utuh (tidak kurang) dan benar. Katakankan tubuh manusia diciptakan dalam sistem. Organ tubuhnya sudah lengkap, ada kaki, tangan, badan, kepala, dan semuanya. Posisi orang-organ itu dalam keadaan benar. Mengapa posisi mata diletakkan di depan, dan seterusnya karena sistem ciptaan Allah itu dalam keadaan benar. Adapun sistem ciptaan manusia, meski tidak sepenuhnya, diharapkan juga akan memenuhi karakteristik yang mencekati dengan sistem ciptaan Allah SWT. Demikian juga dengan pendidikan nasional sebagai sistem. Semua komponen yang ada dalam sistem pendidikan nasional, mulai dari raw input (peserta didik), instrumental input (guru, kurikulum, dan fasilitas pendidikan), environment input (lingkungan sosial, eknomi, budaya masyarakat, pemerintah, dan lingkungan global), akan berpengaruh kepada proses kegiatan belajar, dan akan melahirkan output (keluaran) seperti kelulusan, dan akan menghasilkan outcome (hasil) seperti kemampuan peserta didik, termasuk nilai-nilai (values) yang diperolehnya dari sekolah, seperti tingkat kecerdasan, disiplin, sopan santun, dan imtaq, dan sebagainya.

Ketiga, saya menyampaikan pentingnya penguasaan teknologi informasi, karena dewasa ini kita telah memasuki satu era yang dikenal dengan era tekonologi informasi. Dewasa ini, peradaban manusia telah melalui empat era: (1) era nomaden (berpindah-pindah), yakni era yang pada zaman itu manusia hidup secara berpindah-pindah, karena hidupnya ditentukan oleh ketersediaan bahan makanan di tempat itu, (2) era revolusi hijau atau green revolution, yakni era kelahiran mata pencaharian pertanian dan perkebunan, (3) era revolusi industri atau industrial revoution, yakni era produksi barang secara massal melalui industri massal, dan yang terakhir adalah (4) era teknologi informasi. Itulah sebabnya dewasa ini, lembaga pendidikan sekolah perlu mengembangkan kemampuan peserta didik dalam bidang teknologi informasi.

Hari Ketiga

Pada hari ketiga ini, materi kegiatan peserta adalah: (1) kurikulum inklusif, (2) review KTSP dengan kegiatan mandiri, (3) muatan lokal (mulok), dan (4) pengembangan diri.

Dalam kegiatan review KTSP ini, penyaji mengingatkan tentang tiga kategori KTSP yang akan dihasilkan oleh madrasah, yakni (1) KTSP adopsi, (2) KTSP adaptasi, dan (3) KTSP hasil pengembangan sendiri sekolah yang bersangkutan. Dengan lantang pula penyaji mencoba untuk memberikan balikan kepada perserta, dalam kategori yang manakah KTSP yang sekarang ini telah dimiliki madrasah. Kategori yang pertama, yang masih rendah, atau kategori kedua, yang lebih lumayan, atau sudah kategori ketiga, yang dapat dikatakan sudah baik.

Ketika saya diberikan waktu untuk memberikan penguatan, beberapa catatan penting sempat saya sampaikan.

Pertama, ketika penyaji usai menyampaikan materi tentang kurikulum inklusi, beberapa penolakan terhadap konsep tersebut mulai bermunculan. Seorang peserta dari MTs menyampaikan tentang beratnya beban yang harus disiapkan oleh MTs, jika MTs – PSA ini harus menerapkan konsep kurikulum inklusif ini. Selain guru yang profesional tidak memiliki, sarana pendidikan untuk anak-anak berkebutuhan khusus (ABK) juga belum memiliki. Oleh karena itu, maka peserta ini menilai bahwa konsep kurikulum inklusif ini tidak boleh dipaksakan untuk diterapkan di MTs – PSA.

Peserta yang lain kemudian ada yang menyatakan dukungannya terhadap pendapat tersebut. Anak-anak berkebutuhan khusus sebaiknya dimasukkan ke sekolah luar biasa yang memang harus disediapkan oleh pemerintah.

Setelah mendengarkan penolakan peserta dengan alasan yang kuat tersebut, saya kemudian menyampaikan beberapa pandangan tentang pentingnya kurikulum inklusif tersebut. Pertama, konsep kurikulum inklusif tersebut memang dikembangkan, antara lain karena (1) untuk memenuhi tuntutan hak azasi manusia, yaitu semua anak memiliki hak yang sama untuk memperoleh pendidikan tanpa diskriminasi, (2) kemampuan pemerintah untuk menyediakan sekolah di semua daerah untuk ABK memang terbatas, di samping juga kebutuhan untuk ABK ini tidak sama antara satu daerah kabupaten yang satu dengan yang lain. Oleh karena itu, konsep kurikulum inklusif ini dipandang lebih praktis untuk dapat diterapkan di setiap satuan pendidikan sekolah/madrasah. Adanya pro dan kontra tentang pendidikan inklusif ternyata telah muncul pendapat yang didukung oleh adanya Hadist yang menyatakan bahwa suatu ketika Nabi Muhammad SAW telah ditegor oleh Allah SWT, karena tidak memperhatikan seorang sahabat yang buta. Peringatan Allah ini telah tertulis secara jelas dalam kitab suci Al Quran. Dengan pendapat seorang Kyai ini, peserta kemudian berubah total untuk menyetujui kurikulum inklusif ini.

Kedua, kegiatan review materi Muatan Lokal dan Pengembangan Diri ini merupakan bagian yang tak terpisahkan dari proses review KTSP sebagai satu kesatuan yang tak terpisahkan, karena mulok dan pengembangan diri termasuk dalam struktur mata pelajaran yang ada di dalam KTSP itu sendiri. Jika komponen A disebutkan mata pelajaran-mata pelajaran pokok yang secara nasional sama, maka komponen B adalah mata pelajaran-mata pelajaran kurikuler yang diberikan sesuai dengan kondisi dan kebutuhan daerah dan sekolah. Inilah perbedaan pokok antara kurikulum yang disusun pada era kurikulum nasional dengan era kurikulum berbasis sekolah, yang disebut dengan kurikulum tingkat satuan pendidikan (KTSP). Dalam era KTSP, pemerintah daerah dan sekolah diberikan kewenangan untuk menentukan mata pelajaran sesuai dengan kebutuhan dan kondisi daerah dan sekolahnya masing-masing. Sebagai contoh, pemerintah daerah Provinsi Jawa Barat memandang perlu Bahasa Sunda menjadi muatan lokal yang harus diajarkan kepada peserta didik di sekolah-sekolah di daerah Provinsi Jawa Barat. Bahkan sekolah-sekolah yang berada di kawasan industri garmen, sekolah dapat menetapkan ”menjahit dengan mesin jahit Juki” sebagai salah satu mata pelajaran muatan lokal di kabupaten itu. Untuk menentukan kebijakan seperti itu, maka penyusunan kurikulum jelas harus melibatkan semua pemangku kepentingan (stakeholder) di sekolah tersebut.

Ketika diskusi sampai kepada masalah mata pelajaran yang terkait dengan substansi PSA, maka pembahasan menjadi lebih hangat, karena menyangkut mata pelajaran apa saja yang dapat dimasukkan ke dalam muatan lokal di MTs. Ada yang meminta agar substandi PSA perlu dimasukkan secara terintegrasi dengan mata pelajaran-mata pelajaran yang bersifat nasional, seperti matematika, IPA, dan sebagainya. Dengan demikian, mata pelajaran tersebut dapat disampaikan kepada peserta didik, misalnya pada malam hari ketika ada kegiatan pengajian. Tentu saja, hal ini bukan hanya menyangkut kurikulumnya, tetapi juga menyangkut masalah manajemen pembelajarannya. Memang, masalah kurikulum memang tidak hanya menyangkut materi pembelajaran yang akan diajarkan kepada peserta didik, tetapi juga proses interaksi edukatif atau dalam proses belajar mengajar. Sebagai contoh, apakah pendalaman kitab kuning dapat dimasukkan ke dalam mata pelajaran muatan lokal dalam kurikulum MTs. Demikian seterusnya, semua itu amat tergantung kepada semua stakeholder (pemangku kepentingan) di sekolah yang bersangkutan.

Kedua, pengembangan diri dan ekstrakurikuler lain yang akan diberikan di sekolah. Di samping mata pelajaran yang sifatnya kurikuler, ada kegiatan-kegiatan ekstrakurikuler, yang dimasukkan ke dalam kurikulum, yang nanti akan menjadi kegiatan-kegiatan yang akan dilakukan oleh peserta didik di sekolah.

Diskusi menjadi lebih memanas ketika sampai kepada pernyataan saya bahwa pesantren adalah lembaga pendidikan nonformal. Peserta berpendapat bahwa dalam hal ini, PSA adalah lembaga pendidikan formal. Akhirnya dapat difahami bahwa MTs yang ada di PSA itulah lembaga pendidikan formal, sedangkan pesantrennya adalah lembaga pendidikan nonformal. MTs – PSA maknanya MTs yang berada di pesantren, atau PSA adalah pesantren (sebagai lembaga pendidikan nonformal) yang menyelenggarakan pendidikan formal (MTs). Oleh karena itu muatan lokal dan pengembangan diri perlu dikembangkan oleh semua stakeholder madrasah.

Ketiga, pentingnya IT di MTs. Satu kesan saya yang mendalam terhadap MTs adalah menguatnya kemampuan IT di MTs. Meski mungkin kemampuan itu baru di kalangan tenaga atau  staf administrasinya, saya melihat bahwa kemampuan dalam bidang IT ini sudah mulai merambah di MTs secara lebih luas. Diharapkan agar semua guru, bahkan juga tenaga fungsional lainnya seperti kepala sekolah dan pengawar mulai sadar tentang pentingnya menguasai IT dalam penyelenggaraan pendidikan di MTs, dengan resiko dari segala macam dampak positif dan negatifnya. Pemasalan IT merupakan salah satu dari delapan program seratus hari Mendiknas.

Kesan dan Harapan

Seraya menutup laporan ini, saya telah dapat menyampaikan beberapa butir kesimpulan sementara sebagai berikut:

Pertama, DC dan jajaran pantianya telah membuat rencana yang cukup baik dalam mempersiapkan kegiatan workshop pengembangan madrasah terpadu ini, sehingga kualitas proses pelaksanaan workshop pengembangan madrasah terpadu ini saya nilai telah terlaksana dengan baik dan lancar. Tentang kualitas hasilnya, seperti pemahaman peserta terhadap materi yang disampaikan tentu memerlukan instrumen evaluasi tersendiri, yang seharusnya dapat dikembangkan oleh panitia penyelenggara.

Kedua, kelancaran proses penyelenggaraan workshop pemberdayaan madrasah ini sudah barang tentu didukung oleh motivasi dan semangat peserta yang cukup tinggi. Pemberian bantuan dana untuk membangun gedung madrasah, sudah barang tentu menjadi salah satu faktor yang menyebabkan tingginya motivasi dan semangat peserta. Pada waktu acara makan siang, ada seorang peserta yang bercerita bahwa yayasan sekolahnya telah memperoleh bantuan sebesar 1,1 M lebih untuk membangun gedung madrasah dan fasilitas lainnya. Pembangunan gedung madrasah yang bagus itu sudah barang tentu harus diikuti dengan pelatihan kapasitas para pengelolanya. Oleh karena itu, maka kegiatan workshop pengembangan madrasah terpadu ini menjadi wahana yang sangat tepat untuk meningkatkan kualitas SDM dan manajemen sekolah.

Harapan

Kehadiran peserta dari unsur Komite Sekolah yang berasal dari Kyai perlu dipertahankan seperti putaran II ini, karena kehadirannya dapat menjadi faktor pemerkuat dan pendorong untuk memperlancar pelaksanaan workshop.

Penutup

Demikianlah laporan singat ini untuk menyampaikan beberapa catatan penting dari proses pelaksanaan workshop pengembangan madrasah terpadu yang telah dilaksanakan oleh DC Kabupaten Sukabumi di Inna Samudra Beach Hotel, Pelabuhan Ratu. Mudah-mudahan laporan singkat ini dapat memberikan gambaran tentang pelaksanaan workshop tersebut secara garis besar, dan dapat menjadi bahan masukan untuk perbaikan bagi pelaksanaan workshop putaran berikutnya. Amin.

Jakarta, 8 Februari 2010
National Trainer,
Drs. Suparlan, M. Ed

*) Website: www.suparlan.com; E-mail: me [at] suparlan [dot] com.

Komentar

*