Waktu

Oleh: Suparlan *)

Kita sering mengatakan “waktu itu adalah uang” atau “time is money.” Bahkan orang Arab menyebutnya “waktu itu ibarat pedang.” Ungkapan itu menunjukkan tentang pentingnya waktu. Memang, segala sesuatu itu telah ditentukan waktunya oleh Allah SWT.  Kapan kita dilahirkan, kapan kita dipanggil-Nya, dan kapan rizki kita dilimpahkan. Pendek kata semuanya telah ditentukan waktunya oleh Allah SWT. Bahkan, semuanya telah dituliskan dalam Lauh Mahfuzh (Arab:لَوْحٍ مَحْفُوظٍ), yakni kitab tempat Allah menuliskan seluruh scenario dan proses kejadian di alam semesta ini. Kata Lauh Mahfuzh disebut tertulis sebanyak 13 kali di dalam Al-Qur’an . Semua skenario tersebut telah ditentukan waktunya. Termasuk Bulan Suci Ramadhan tiba, yang kita nanti-nantikan kedatangannya olen semua umat Islam dengan SELAMAT DATANG RAMADHAN. Oleh karena itu, ungkapan menunggu waktu sebenarnya tidak tepat, karena semua telah ditentukan oleh Allah SWT semua kejadian ini di Lauh Mahfuzh tersebut.

Persiapan menerima kedatangan bulan suci Ramadhan 

Alhamdulillah, beberapa hari yang lalu, Allah SWT telah mengirimkan skenaria kedatangan bulan suci Ramadhan. Ramadhan yang bernilai seribu bulan telah kita terjadi, dan kita tinggal mengamalkan semua perintah syariat-Nya untuk memetik pahala yang telah dijanjikan. Salah satu syariat yang dijanjikan itu adalah mempersiapkan diri untuk menyambut bulan suci Ramadhan. Persiapan itu yang diperintahkan dalam tiga ayat Surat Al-Baqarah: (1) meningkatkan keimanan dan ketaqwaan kepada Allah, (2) banyak membaca Al-Quran, dan (3) menyapu dosa-dosa kita kepala Allah, orangtua, sanak saudara, dan sesamanya.

Sayangnya, ketiga persiapan ini yang justru sering kita lupakan. Padahal yang diseru oleh Allah SWT untuk menunaikan ibadah puasa Ramadhan adalah orang-orang beriman. “Ya ayyuhalladina amnu, kutiba alaikum musyiyam.”  Dengan demikian yang memenuhi panggulan Allah SWT tersebut adalah yang telah mempersiapkan diri sebagai orang yang beriman. Ada tiga dasar yang diperlukan untuk menjadi manusia yang beriman tersebut, yakni (1) landasan keimanan dan ketaqwaan, (2) landasan keislaman dalam bentuk pelaksanaan syariah Islam, dan (3) landasan keihsanan sebagai hasil yang diharapkan, yakni manusia yang memiliki kesalehan spiritual (hablum minallah) dan kesalehan sosial (hablum minannas).   

Sayangnya, persiapan yang yang laksanakan ternyata mengikuti tradisi lama yang belum tentu ditentukan dalam syariat, seperti menyiapkan mercon dan tradisi lainnya. Misalnya mandi menggunakan kembang setaman menjelang Ramadhan, yang dilaksanakan justru dengan melanggar syariat (campur baur antara laki-laki perempuan). Mempersiapkan mercon yang dibakar setelah shalat taraweh. Mudah-mudahan kita dibimbing Allah untuk melaksanakan persiapan menyambut bulan suci Ramadhan sesuai dengan syariat, karena semua hal yang tidak sesuai syariat pasti akan tertolak. Amin.

Manfaat Sains dan teknologi

Bagaimana dengan waktu bulan suci Ramadhan? Kita mengikuti ayat yang menyebutkan bahwa “ketika kita melihat bilal, kemudian kita dapat memulai puasa Ramadhan.”  Dalil inilah yang disebut sebagai “rukyatul hilal” artinya kita diwajibkan muemulai puasa setelah setelah dipastikan melihat bulan. Sistem lain yang digunakan adalah dengan hisab, dan alat-alat yang digunakan untuk memastikan seberapa tinggi hilal itu adalah teknologi. Dengan demikian, kuncinya adalah rukyatul hilal. Itulah sebabnya pemerintah harus melaksanakan sidah isbat untuk memastikan terlihatnya bulan. Makna melihat bulan ada yang memberikan mahna konotatif, yakni memahami cara menentukan waktu bulan puasa Ramadhan dengan cara hisaf. Tentu saja semua itu sah-sah saja. Manusia deiberikan kemampuan dan kelebihan akal dibandingkan mahluk lainnya, termasuk malaikat dan jim. Dengan cara demikian, justru mendatangkan manfaat. Ketua DKM menyampaikan syukur karena pada tahun ini tidak ada perbedaan puasa Ramadhan. Barangkali sebagai akibat dengan digunakan perpaduan antara rukyatul hilal dengan hisaf.  Bukankah dalam beberapa tahun lalu, kejadian gerhana bulan dan gerhana matahari telah dapat diketahui secara tepat? Lagi-lagi Allah SWT telah menetapkan waktunya. Manusia tinggal mengikuti petunjuknya. Ilmu pengetahuan seperti astronomi, ilmu falak, dan bergaai macam teknologi menjadi alat yang canggih yang digunakan manusia. Berbagai macam jam, seperti jam berbaterai, jam dengan diputar, jam goyang, jam elektronik adalah beberapa tekonologi untuk menentukan waktu. Termasuk teknologo untuk menentukan posisi bulan ketika waktu yang tepat dimulainya puasa suci Ramadhan adalah alat-alat canggih berupa teleskop dan bukan mata telanjang. Sains dan teknologi mempermudah manusia untuk menentukan waktu dan arah, termasuk untuk menentukan waktu dan arah kiblat. Pada periode KH. Ahmad Dahlan mendirikan Muhammadiyah, beberapa masjid di Yogyakarta tidak sesuai dnegan kiblat yang seharusnya. Oleh karena itu KH. Ahmad Dahlan berusaha untuk memperbaiki kiblat beberapa masjid di Yogyakarta tersebut. Ini contoh manfaat sains dan teknologi untuk kepentingan ibadah. Sama dengan manfaat sains dan teknologi untuk menentukan waktu bulan suci puasa Ramadhan. Sangat banyak contoh-contoh manfaat sains dan teknologi yang bermanfaat untuk pengamalan ibadah. Mulai dari jam yang mengingatkan kita untuk mulai melaksanakan shalat. Teknologi kompas untuk menentukan arah kiblat, sampai dengan teleskop untuk menghitung derajat dalam penentuan bulan suci Ramadhan.

Itulah sebabnya, maka kaidah pokok ibadah mahdhoh adalah haram, kecuali ada perintah untuk melaksanakannya. Sebaliknya kaidah pokok ibadah ghoiru mahdhoh adalah wajib, kecuali ada ketentuan yang melarangnya. Mudah-mudahan kita dapat menunaikan ibadah mahdhoh dan ibadah ghoiru mahdhoh sesuai dengan pentunjuk-Nya. Amin.

*) Laman: www.suparlan.com; Surel: me@suparlan.com,

 

Depok, 4 Juni 2016.

Satu komentar

  1. Disney
    Apr 10, 2017 @ 07:24:32

    That’s 2 clever by half and 2×2 clever 4 me. Thskna!

    Reply

Komentar

Apabila Anda punya pertanyakan silakan kirimkan pertanyaan Anda ke http://masdik.com/pertanyaan/

*