Tak Jujur Negara Hancur

***

To say is easy, to do is difficult. To understand is more difficult.

But to make one understand is the most difficult

(Anoname)

***

Tanggal 10 April 2016 saya dan teman-teman alumni Geografi 1969 mengadakan reuni. Bahagia sekali rasanya bisa bertemu teman-teman lama. Itulah sebabnya saya menyebut reuni itu sebagai projek kebahagiaan. Bayangkan! Teman-teman dari berbagai daerah pelosok Jatim. Ada sekitar dua puluh orang. Ada dari Blitar, Trenggalek, Malang, Banyuwangi, dan daerah lain. Bisa menjadi gayeng bertemu lagi. Semuanya sudah pensiun tapi masih semangat untuk membangun keluarga masing-masing. Keluarga adalah fondasi dan tiang negara.  Paling tidak menjadi MC (momong cucu). Reuni ini dirancang setiap bulan April dan Oktober setiap tahun. Alhamdulillah. Kami semua ingin mengakhiri usia ini dengan khusnul khotimah. Usia panjang dan tetap bermanfaat bagi sesama. Allah jualah yang mengaturnya. Insyaallah.

Bhinneka Tunggal Ika

Dalam reuni tersebut kebetulan saya diminta sekedar memberikan tausiah. Salah satu butir tausiah itu adalah tentang fenomena yang sering kita tonton di kotak ajaib (televisi) setiap hari. Koruptor terkena OTT, tapi seminggu pula muncul lagi koruptor yang lain. Saya pernah menulis lima langkah cara mencegah korupsi di laman pribadi saya. Bahkan saya juga menulis tentang tragedi di negeri tercinta ini. Sebut tragedi korupsi. Sama dengan tragedi-tragedi yang lain, seperti narkoba yang akan menggerogoti negeri ini. Dalam tausiah itu saya sengaja petik materi tulisan saya tentang tragedi.  Tulisan ini pun bisa menjadi salah satu tragedi.

Teman-teman semua adalah pensiunan guru di sekolah-sekolah di berbagai daerah. Oleh karena itu saya ingin membawa dunia pendidikan dalam reuni ini. Terkait dengan cerita seorang penyanyi dangdut yang tidak tahu tentang lambang negara Garuda Pancasila, saya coba-coba tanya begini. “KATA APAKAH DALAM SEMBOYAN BHINNEKA TUNGGAL IKA YANG ARTINYA SATU?”  Saya yakin para pembaca tulisan ini pun banyak yang salah dalam menjawab. Pasti akan banyak yang salah dalam menjawab. Alhamdulillah, teman-teman ternyata tidak salah. Seorang teman, namanya Ibu Kamsinah, yang memang cerdas ketika kuliah, ternyata menjawab benar, yakni TUNGGAL.  Bukan IKA, karena IKA artinya ITU. Inilah yang sering salah persepsi. Eka dalam Bahasa Jawa Kuno artinya memang satu. Tapi Ika artinya ITU. Sama dengan IKU. Inilah materi tausiah yang sengaja saya sampaikan kepada siapa saja dalam berbagai acara, misalnya dalam acara workshop Dewan Pendidikan dan Komite Sekolah. Bagi saya hal itu sangat penting, agar tidak terjadi seperti warga negara seperti Saskia Gotik yang tidak tahu tentang Lambang Negara Garuda Pancasila. Secara etimologis, BHINNEKA TUNGGAL IKA dapat dijelaskan dengan BHINNA IKA, TUNGGAL IKA. BHINNA artinya berbeda atau pecah, IKA artinya ITU. TUNGGAL artinya SATU dan IKA artinya SATU. Pengertian inilah yang tidak dimaknai dengan benar. Seperti yang terjadi dalam buku Menggelorakan Api Pancasila, yang ditulis oleh Sayidiman Suryohadiprojo, mantan Gubernur Lemhanas. Boleh jadi kesalahan bukan pada penulisnya, tapi penerbitnya atau penyuntingnya. Sayang keduanya tidak atau belum memberikan klarifikasi mengenai hal ini.

Pendidikan Karakter dan Jujur

Materi tausiah yang saya sampaikan lagi adalah tentang buku yang diterbitkan 2012, berjudul Praktik-praktik Terbaik Pelaksanaan Pendidikan Karakter. Buku itu saya tulis untuk menindaklanjuti tema Hari Pendidikan 2 Mei 2010 tentang Pendidikan Karakter di negeri ini. Bagi saya, Pendidikan Karakter begitu penting, pendidikan tentang otak yang tidak diikuti pendidikan tentang pendidikan hati tidak ada arti. Itulah salah satu latar belakang penulisan buku tersebut.

Dalam buku itu, saya mengutip salah satu tulisan yang menyebutkan bahwa orang Indonesia tidak akan pernah bisa jujur. Benarkah itu? Heran juga saya dibuatnya. Atau apakah itu untuk manusia pada umumnya ataukah hanya untuk manusia Indonesia? Kalau benar hanya untuk Indonesia? Apakah alasannya? Sementara untuk orang Indonesia, yang masih menyisakan tragedi tersebut. Alasannya membuat saya terkaget-kaget. Selama ini, kita ditatar P4 dengan butir-butir pengamalan Pancasila.  Penyanyi dangdut yang tersandung kasus itulah diselesaikan dengan mengikuti penataran.  Pertama Pancasila dijabarkan ke dalam 36 butir pengamalan Pancasila, dan kedua Pancasila dijabarkan ke dalam 45 butir. Apa kaitannya dengan jujur? Itulah jawabannya. Mengapa orang Indonesia tidak akan bisa jujur? Ya, karena dalam 36 dan 45 butir nilai Pancasila tersebut tidak ada nilai JUJUR tersebut. Bahkan percontohan kantin kejujuran pun telah lama mati. Ternyata benar. Saya mencoba memelototi daftar 45 butir Pancasila yang saya miliki. Memang 100% benar. Tidak satu pun butir yang menuangkan kata JUJUR dalam 36 atau 45 butir nilai pengamalan Pancasila. Oleh karena itu, maklum saja, kalau orang Indonesia tidak akan bisa menjadi JUJUR.

Ketika dalam acara alumni Geografi 69 saya menjampaikan materi tentang kejujuran tersebut, seorang yang suaminya lulusan PPKN (Pendidikan Pancasila dan Kewargaan Negara) yang IP-nya 4 telah memprotes keras alasan tersebut. Itu kan yang secara eksplisit, katanya kepada saya. Bukankah yang menjadi dasar negara dan butir-butir pengamalan itu bukan hanya yang eksplisit saja? Tetapi juga yang implisit? Semua sila Pancasila itu adalah tidak ada yang eksplisit, tetapi justru yang implisit. Misalnya Ketuhanan Yang Maha Esa, itu bukan eksplisit. Tida ada JUJUR salam sila tersebut. Termasuk sila-sila yang lainnya, sampai sila KEADILAN SOSIAL BAGI SELURUH RAKYAT INDONESIA. Tidak ada yang menyebut secara eksplisit JUJUR. Bahkan juga dalam semua naskah janji pengangkatan semua pejabat, mulai dari PRESIDEN sampai ke Ketua RT, boleh jadi tidak ada yang tertuang secara eksplisit kata-kata JUJUR. Wallahu alam. Tetapi yang pasti kata JUJUR tertuang secara implisit. Bahkan pasti dengan menyebut atas nama Tuhan Yang Maha Esa. Bukan atas nama KORUPTOR untuk tidak akan menjadi generasi penerus sebagai koruptor. Oleh karena itu, yang paling penting adalah tidak akan menjadi generasi penerus (terutama penerus korupsi) tetapi generasi pelurus dan generasi pencerah.

Wal hasil, mau terus melakukan korupsi atau mau berhenti, itu adalah pilihan. Sistem nilai KEJUJURAN memang lebih baik ekspisit disebutkan dalam pilar-pilai nilai. Malah secara rutin ditunjukkan di depan mata kita. Tapi semuanya akan kita kembalikan kepada diri kita sendiri. Akankah kita mau JUJUR? Tidak jujur NEGARA KITA AKAN HANCUR? Hanya Allah yang maha mengatur.

*) laman: www.suparlan.com; surel: me@suparlan.com.

Depok, 11 April 2016.

Komentar

Apabila Anda punya pertanyakan silakan kirimkan pertanyaan Anda ke http://masdik.com/pertanyaan/

*