Seberapa Tinggi Komitmen Kita?

Oleh: Suparlan *)

 

Disampaikan dalam Rapat Pergantian Pengurus Dewan Pendidikan

Kota Depok, Senin 29 November 2015

 

فَإِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا

(Al-Quran)

Pendidikan mempunyai akar yang pahit, tapi buahnya manis

(Aristoteles)

Keberhasilan adalah kemampuan untuk melewati dan mengatasi satu kegagalan ke kegagalan berikutnya tanpa kehilangan semangat

(Winston Churcill)

Sambil menunggu pesawat ke Yogya alangkah enaknya sambil membaca. Acara ke Yogya adalah untuk menjadi narasumber dalam kegiatan workshop bantuan sosial Dewan Pendidikan dan Komite Sekolah. Materinya Revitalisasi Dewan Pendidikan dan Komite Sekolah. Pas sekali, karena yang sedang saya baca adalah tentang buku B.J. Habibie yang membahas tentang masalah komitmen. Bukan satu hal yang kebetulan. Hanya Allah yang Maha Mengatur.

Komitmen

Kita sering kali menggunakan kata komitmen. Bahkan dengan pasangan kita, sering kata itu kita ucapkan. Janji ya? Deal ya pa atau ma? Itulah kurang lebih makna komitmen. Makna kata itu dapat kita padankan dengan kepedulian. Ketika Habibie ditanya “jika bapak dilahirkan kembali, bapak ingin jadi apa?” Maka apa jawaban beliau? “Jadi insinyur.” Itulah yang pasti, karena itulah komitmen beliau dalam hidup ini. Beliau ingin membangun negeri ini dengan komitmen itu. Itulah janji suci beliau. Jika pertanyaan tersebut diajukan kepada peserta workshop bantuan sosial Dewan Pendidikan dan Komite Sekolah, apakah jawabannya? Jawabannya adalah “mau menjadi pengurus Dewan Pendidikan atau Komite Sekolah sesuai dengan ketentuan yang berlaku.” Tidak akan lari “colong playu” dari organisasi yang baru berusia dua belas tahun ini. Tidak akan melarikan diri dari gelanggang untuk membantu upaya peningkatan mutu pelayanan pendidikan di negeri ini. Karena itulah dan fungsi Dewan Pendidikan dan Komite Sekolah sebagai organisasi mandiri dan profesional. Bukan memburu gaji di organisasi Dewan Pendidikan dan Komite Sekolah, karena organisasi ini memang bukan birokrasi yang memiliki nomenklatur anggaran tersendiri.

Jika kemudian sampai saat ini belum dibentuk Dewan Pendidikan Nasional meski keberadaan lembaga tersebut merupakan amanat Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003, komitmen pun masih akan tetap tidak beranjak dari pijakan awal. Akankah komitmen Habibie yang kita jadikan pegangan juga akan berubah total karena pengaruh lingkungan? Jika terpengaruh pastilah, tetapi janganlah goyah yang tidak tentu arah.

Jika kemudian terjadi penyimpangan organisasi misalnya karena masih banyak Dewan Pendidikan dan Komite Sekolah yang menjadi “stempel” pemerintah daerah dan sekolah, komitmen pun jangan sampai berubah turun naik seperti harga di negeri ini yang tidak stabil karena dimainkan oleh konglomerat.

Agen Perubahan

Terkait dengan peringatan Hari Guru Nasional tahun 2015 ini, kita mengharapkan guru dapat menjadi agen perubahan dalam proses revolusi mental yang digagas Presiden Jokowi. Sebagai representasi masyarakat dunia pendidikan, pengurus Dewan Pendidikan dan calon pengurus Dewan Pendidikan kita juga harus menjadi agen perubahan. Perubahan dari negatif menjadi positif. Oleh karena itu harapannya adalah dapat menghasilkan satu generasi, BUKAN PENERUS SAJA, TETAPI GENERASI PELURUS, dan bahkan GENERASI PENCERAH. Yang bengkok diluruskan. Jadi menjadi agen perubahan untuk membangun bukan hanya membangun generasi penerus, tetapi generasi pelurus dan pencerah.

Empat Level Komitmen

Ibarat tangga, komitmen itu memiliki empat anak tangga, mulai dari anak tangga yang paling rendah sampai yang paling tinggi.

Level yang paling rendah dinamakan EGP. Apa itu EGP. Ini bahasa gaul yang digunakan. EGP singkatan dari Emangnya Gue pikirin!  Ketidakpedulian jika terjadi suatu kerika terjadi masalah dalam dunia pendidikan. Ya biar aja. Kan sudah ada yang ngurusin. Ada Kemendikbud. Ada Dinas Pendidikan Provinsi, dan seterusnya. Emangnya Gue Pikirin! Padahal sudah menjadi kesepahaman dalam konsep desentralisasi pendidikan bahwa urusan pendidikan bukan hanya menjadi urusan Pemerintah. Sebagian diserahkan kepada pemerintah daerah. Bahkan juga masyarakat. Dunia ini senantiasa bersifat dualistik. Ada ibu ada bapak. Ada daratan ada lautan. Ada pemerintah ada masyarakat. Demikian seterusnya. Ibarat dua sisi mata uang. Yang tidak boleh diduakan hanyalah Allah semata. Kita memiliki Nabi Ibrahim, bapak monoteisme mengajarkan demikian.

Level kedua MTTM artinya mampu tapi tak mau. Kemauan dan semangatnya nihil. Niatnya nggak ada meski sebenarnya dikaruniai ilmu. Sayang. Level ketiga sebaliknya. Mau tapi tak mampu. Jadi masalahnya kompetensi. Nah inilah pentingnya kita senantiasa meningkatkan kompetensi. Belajar sepanjang hayat. Level tertiggi atau keempat adalah AMANAH. Mampu dan mau. Ini adalah sifat Rasul yang memiliki empat nilai SIFAT kerasulan. Pertama SIDIQ. Kedua FATHONAH. Ketiga AMANAH, dan keempat TABLIGH. Dari keempat level komitmen tersebut, masing-masing diri kita dapat mengukur dengan hati masing-masing.

Akhirul kalam, mudah-mudahan berdasarkan ukuran tersebut, kita menduduki level komitmen yang keempat. AMANAH.

*) Laman: www.suparlan.com. Surel: me@suparlan.com. Kritik Anda akan saya simpan dalam guci emas untuk perbaikan dan penyempurnaan.

Depok, 26 November 2015.

Komentar

Apabila Anda punya pertanyakan silakan kirimkan pertanyaan Anda ke http://masdik.com/pertanyaan/

*