Ada Asap Ada Api

Oleh: Suparlan *)

Ungkapan ini amat tepat untuk makna denotatif, bukan makna konotatif. Setiap kejadian ada penyebabnya. Ada asap yang menyebabkan banyak orang yang sakit pernafasan karena CO2. Bahkan beberapa bayi yang tepaksa tidak bisa meneruskan hidupnya karena terkena asap. Ya Allah! Benar sekali. Ada asap pasti ada sebabnya, yakni karena ada apinya. Kenapa ada api, pastilah karena ada yang menghidupkan api. Dalam masalah tradegi asap di beberapa kawasan provinsi di Indonesia, tragedi asap itu pastilah karena ada yang membakar hutan. Tulisan ini mencoba mencari sebab musabab terjadinya bencana asap yang hiruk pikuk tersebut, sampai melibatkan beberapa negara tetangga untuk membantu memecahkannya. Mudah-mudahan sebagai bantuan bukan hanya yang tulus, tetapi yang ikhlas. Dalam buku Success Protocol, Ipphu Santosa menjelaskan bahwa ikhlas lebih tinggi nilainya ketimbang tulus, karena ikhlas karena Allah, Allah, dan Allah.

Budaya membakar sampah

Saya dulu pernah belajar sosiologi dan kebudayaan dari karya Kuntjaraningrat. Setelah getol membuka internet, saya mengetahui bahwa unsur budaya (cultural traits) itu memang ada dua macam. Ada yang positif dan ada pula yang negatif atau toxic culture[1]. Budaya membakar hutan yang menimbulkan bencara besar itu tidak terjadi tiba-tiba. Tentu lahir dari proses panjang pembentukan budaya, dari rumah, dari sekolah, dan bahkan dari kebiasaan masyarakat.

Ketika masa kecil hidup di desa Tawing, Kecamatan Munjungan, Kabupaten Trenggalek, saya sering diminta Ibu untuk menyapu halaman. Banyak sampah yang berhasil dikumpulkan. Agar kumpulan sampah itu tidak keliharan jorok, maka Ibu minta untuk membakarnya. Kegiatan ini banyak dilakukan oleh penduduk desa dan kota sampai sekarang. Kebiasaan membakar sampah itu terjadi di lingkungan yang lebih luas, sekolah dan masyarakat. Kegiatan itu ternyata kegiatan negatif, karena menyumbang pemenasan global, menambah jumlah CO2, dan mengurangi zat hara dalam tanah. Dengan tujuan agar kebiasaan itu dapat diputus, saya menulis berjudul LSO (lubang sampah organik) di laman pribadi saya www.suparlan.com. Teknik yang sudah dijamin efektif adalah dengan membuat biopori, yakni gagasan cemerlang dari IPB (Institut Pertanian Bogor).

Saya sering melihat petugas kebersihan di jalan-jalan protokol. Mereka pun masih melakukan hal yang sama, yakni membakar sampah yang berhasil dikumpulkan. Masih untung. Sampah itu tidak dimasukkan ke dalam got, karena mempunyai dampak negatif lain, yakni menyebabkan banjir.

Budaya itu pun terjadi dalam konteks yang lain, seperti membakar sisa-sisa batang padi untuk persiapan mengolah sawah dan ladang. Dalam konteks yang lebih luas, membakar hutan dan tanaman untuk persiapan membuka perkebunan besar, seperti kelapa sawit, dan beberapa macam perkebunan lain pun juga melalui proses yang sama. Membakar hutan, yang sering mempunyai dampak iringan terjadinya kebakaran gambut, sebagai masalah yang lebih luas.

Membangun budaya sekolah dan budaya masyarakat untuk membuang sampah pada tempatnya, tidak membakar sampah, tidak membuang sampah di parit-parit, merupakan pekerjaan berat yang tersendiri, tetapi harus dimulai. Kapan lagi, kalau tidak sekarang. Siapa lagi, kalau bukan kita sendiri? Hasil pembangunan budaya akan berdampak positif jangka panjang. Untuk ini, yang harus dilakukan adalah membangun unsur budaya positif, dan sekaligus membasmi unsur budaya negatif.

Yang lebih susah, tragedi asap ternyata dilatarbelakangi oleh faktor-faktor lain yang bermain, seperti faktor ekonomi, sosial, dan bahkan politik. Ternyata pembakaran sampah dilatarbelakangi oleh campur tangan para pengusaha yang duitnya tebal. Tebal sekali. Wallahu alam.

Budaya Asap

Tragedi asap di negeri ini, boleh jadi bersumber dari budaya yang selama ini telah kita bangun sendiri. Bukan sebagai insiden yang tiba-tiba. Namun, memang banyak faktor lain yang ikut bermain di dalamnya. Ada faktor politik, ada sosial, dan bahkan ada faktor bisnis dan ekonominya.

Saya nonton TV yang menjelaskan faktor-faktor bisnis dan ekonomis yang melatarbelakangi terjadinya pembakaran hutan untuk membangun perkebunan dan proyek-proyek lainnya. Analisis faktor-faktor tersebut memberikan bukti bahwa membakar hutan biayanya jauh lebih murah dan lebih mudah jika dilakukan dengan cara membakar hutan. Sementara itu, perusahan-perusahaan yang memiliki proyek pembangunan perkebunan tersebut pastilah memiliki konseksi dan kolaborasi dengan pihak-pihak lainnya, seperti penguasa, pihak-pihak keamanan lainnya. Proses hukum dan pengadilan terhadap oknum-oknum yang terlibat dalam tragedi asap di negeri ini pastilah akan menjadi urusan besar yang sangat sulit untuk diselesaikan. Tanpa adanya kemauan yang tulus dan ikhlas dari semua pihak.

Preventif dan Kuratif

Secara preventif, pembangunan budaya mulai dari jalur pendidikan keluarga, sekolah, dan masyarakat harus dimulai. Upaya ini memerlukan adanya beberapa manual secara tertulis agar dapat dijadikan sebagai panduan untuk seluruh warga negara terlibat secara aktif dalam pemecahan masalah tragedi asap. Pernahkan kita menemukan manual-manual yang dibuat tentang mengolah lahan oleh kementerian pertanian, kehutanan, pemerintah daerah, kepolisian, dan sebagainya yang terkait dengan pemecahan secara kuratif, tetapi juga kementerian pendidikan dan kebudayaan, serta semua pihak yang terkait? Semua itu baru terpikirkan setelah ada tragedi. Tragedi-tragedi itu akan berulang kembali entah sampai kapan lagi?

Akhirul Kalam

Kehidupan pasti ada masalah. Semua masalah Insya Allah dapat diselesaikan secara terencana. Tiada masalah yang jatuh tiba-tiba. Oleh karena itu pemecahan masalah harus melibatkan seluruh komponen dengan semangat kerja sama (super team). Amin.

*) Laman: www.suparlan.com; Surel: me@suparlan.com;

Depok, 15 Oktober 2015.

[1] Is Your School’s Culture Toxic or Positive?, http://www.educationworld.com/

 

[1] Is Your School’s Culture Toxic or Positive?, http://www.educationworld.com/

 

Komentar

Apabila Anda punya pertanyakan silakan kirimkan pertanyaan Anda ke http://masdik.com/pertanyaan/

*