Salah

Oleh: Suparlan *)

Belajar itu di mana saja, kapan saja, dan dengan siapa saja. Pagi-pagi buta saya telah belajar. Di trotoar. Dengan seorang sahabat nuggu bus jemputan. Alhamdulillah. Saya memperoleh ilmu pendidikan. Saya ikat ilmu itu dengan menuliskannya. Itulah pesan yang mengiang-ngiang di telinga saya dari Sayyidina Ali Ra. Sekali lagi Alhamdulillah.

Seorang sahabat itu bercerita. Berliau sedang asik menggunakan HP barunya sambil berdiri di trotoar. Tiba-tiba disahut dengan paksa oleh orang yang bersepeda motor. Seeeet! Hilanglah dengan sekejap HP itu. Berteriaklah seketika. Tetapi pengendara sepeda motor telah melarikan HP lebih cepat. Demikianlah awal ceritanya. Sebelum peristiwa itu, anak sahabat saya itu HP-nya juga hilang. Harga HP-nya Rp3 juta rupiah. Tentu saja sahabat saya itu memarahi anaknya. Sebagai bapak yang bertanggung jawab akan pendidikan anaknya, beliau memarahi anaknya agar hati-hati dan tidak mengulanginya. Tentu saja anaknya takut, dan kemudian berjanji tidak akan mengulangi.

Hilang HP

Kehilangan HP sahabat ini tentu telah mengubah mindset dirinya tentang anaknya. Ternyata bapak dapat kehilangan HP seperti yang terjadi pada anaknya. Bahkan kesimpulannya adalah siapa saja bisa bersalah. Al insanu mahalul khoto’ wa nisyan. Manusia itu tempat salah dan lupa. Manusia hanyanlah makhluk biasa yang tak luput dari khilaf dan dosa. Alih-alih sang anak, bapak pun bisa melakukan salah dan dosa. Inilah pelajaran berharga yang dapat kita petik dari cerita ini. Cerita mengandung hikmah yang menjadi pelajaran berharga bagi siapa pun juga.

Empat Pilar Belajar

Cerita itu mengingatkan saya tentang buku yang drafnya sedang saya sedang saya tulis. Naskah buku itu berjudul Pendidik dan Tenaga Kependidikan. Di dalam naskah buku tersebut antara lain menjelaskan tentang perubahan paradigma pembelajaran. Tidak ada yang tidak berubah di dunia ini, keduali kata perubahan itu sendiri. Termasuk paradigma pembelajaran. Dalam paradigma lama, guru duduk sebagai seorang yang superior, seorang yang serba tahu, serba benar, dan serba memiliki pengetahuan. Sedang anak sebagai pihak yang inferior yang tidak bisa apa-apa. Dengan kata lain, guru menjadi pihak yang serba tahu, sedang peserta didik belum mengetahui apa-apa, tidak memiliki apa-apa, bahkan peserta didik lah yang senantiasa memiliki salah dan dosa. Inilah paradigma yang dikenal dalam pendidikan dengan teori tabula rasa. Anak sebagai kertas putih yang akan digambar apa saja, tergantung gurunya atau orangtuanya. Paradigma ini dikenal juga dengan teko dan gelas kosong. Teko adalah gurunya yang memiliki ilmu yang penuh, dan gelas kosong adalah para siswanya atau peserta didik. Anak atau peserta didik siap untuk diisi dengan apa saja oleh guru atau orangtuanya. Teori ini bertentangan dengan teori rekonstruktivisme sebagai teori yang dipandang modern dibandingkan dengan konvensional. Teori konvensional memandang anak atau peserta didik memiliki potensi yang berkembang menjadi dirinya sendiri. Unesco menyebut 4 (empat) pilar belajar: (1) learning to know, (2) learning to do, (3) learning to be, dan (4) learning to live together. Artinya (1) belajar untuk mengetahui, (2) belajar untuk melakukan, (3) belajar untuk menjadi dirinya sendiri, dan (4) belajar untuk hidup bersama. Setiap zaman telah melahirkan generasinya masing-masing.

Pelajaran

Cerita itu memberikan pelajaran kepada kita antara lain sebagai berikut. Pertama, kita perlu hati-hati, bahkan super hati-hati, di mana pun kita, dan dalam keadaan apa pun. Kedua, konsep bayi yang baru lahir adalah fitrah harus difahami secara benar. Maksudnya, bayi itu memiliki potensi. Bukan gelas kosong melompong. Jadi setiap anak adalah bintang, atau calon bintang sesuai dengan potensi yang dimiliki. Fitrah pada bayi itu bukan fitrah secara fisikal, melainkan fitrah secara mental dan sosial. Sekali lagi, sucinya bukan secara fisik. Misalnya kencingnya suci, tidak najis, dan karena itu tidak perlu toharoh, meski bayi itu menyusui eksklusif dari ibunya. Ketiga, dalam mendidik anak kini telah terjadi paradigma pembelajaran baru, dari paradigma konvensional menjadi paradigm modern. Paradigma baru itu adalah sebagai berikut: (1) dari top down ke bottom up, dari teacher-centered ke student-centered, (2) dari single media ke multi media, (3) dari isolated work ke collaborative work, (4) dari information delivery ke information exchange, (5) dari active learning ke active learning, (6) dari passive learning ke active/inquiry-based learning, (7) dari factual thinking ke critical thinking, (8) dari artificial content ke real-work content, (9) dari isolated institutions ke cooperating institutions, dan seterusnya. Bahasa yang digunakan Bahasa Inggris. Biar keren, ilmiah, tahu aslinya, dan menarik mahasiswa FKIP Universitas Tama, Jagakarsa, untuk belajar tentang pendidikan.

Dari PAKEM ke PAIKEM

Daftar paradigma baru tersebut terus berkembang selaras dengan perkembangan teori dan konsep pendidikan yang semakin maju dan berkembang. Dahulu, peserta didik tidak boleh banyak bicara di dalam kelas. Sekarang peserta didik harus berani berargumentasi, harus jangan malu-malu, dan jangan ragu-ragu untuk mengajukan pendapat dalam diskusi kecil maupun diskusi kelas. Jika dahulu peserta didik hanya melakukan datang, duduk, diam, dengar). Sekarang peserta didik harus berani CBSA (cara belajar siswa aktif). Sekarang peserta didik harus masuk dalam SAL (student active learning). Selain itu, peserta didik juga harus masuk dalam JAL (joyful active leadalarning). Singkat kata proses pembelajaran harus berlangsung dengan PAKEM (pembelajaran aktif, kreatif, efektif, dan menyenangkan) atau bahkan PAIKEM (pembelajaran aktif, inovatif, kreatif, efektif, dan menyenangkan.

Salah sebagai proses pendidikan

Kita harus berani berbuat salah. Asal jangan selalu mengulangi kesalahan. Tak percaya, untuk menemukan kebenaran, kita perlu melakukan uji coba untuk memperoleh banyak pengalaman, di antaranya adalah pernah melakukan kesalahan. Trial and error. Itulah sebabnya, jangan membuat anak atau peserta didik takut melakukan kesalahan. Asal tidak salah keterusan dan kebablasan. Salah itu harus dirancang untuk proses mencari kebenaran. Salah adalah proses pendidikan. Judul tulisan ini menjadi medium proses belajar. Amin.

*) Laman: http://www.suparlan.com; Surel: me@suparlan.com.
Depok, 7 September 2015.

Komentar

Apabila Anda punya pertanyakan silakan kirimkan pertanyaan Anda ke http://masdik.com/pertanyaan/

*