Ijazah Palsu

Oleh Suparlan *)

***
Intelligence plus character – that is the goal of true education
(Martin Luther King Jr.)
The task of the modern educator is not to cut down jungles, but to irrigate deserts
(C.S. Lewis)
Educating the mind without educating the heart is no education at all
(Aristotle)

***

Untuk mengawali tulisan ini, saya harus menyampaikan beberapa kata mutiara pendidikan yang dikemukakan oleh C.S. Lewis bahwa “The task of the modern educator is not to cut down jungles, but to irrigate desert”. Tugas pendidik di zaman modern adalah bukan untuk menebang hutan belantara, tetapi untuk mengairi padang pasir. Benar-benar berat amat tugas pendidik masa kini, karena harus mengairi padang pasir. Ini dapat disamakan tugas berat Nabi Ibrahim ketika harus mencari air di padang pasir untuk anaknya Ismail. Ada dua syarat yang harus dipenuhi, yakni kerja keras dan do’a yang makbul. Hanya dengan kedua persyaratan itulah maka tugas pendidik masa kini dapat menuai hasil yang diharapkan.

Tugas Pendidik

Beratnya tugas pendidik masa kini adalah menghasilkan lulusan yang sesuai dengan kompetensi yang diharapkan dalam standar sesuai dengan tujuan pendidikan nasional, yakni kompetensi dalam bidang pengetahuan, sikap, dan keterampilan. Menurut Benjamin S. Bloom, ketiganya disebut sebagai ranah kognitif, afektif, dan psikomotor. Ketika dalam acara wawancara televisi, Prof. Dr. Prof. Dr. Sudiarto ditanyakan tentang masalah ijazah palsu yang kini menjadi berita hangat yang secara luas diberitakan media massa, maka beliaupun kembali menanyakan “Bagaimana hasil pendidikan kita, kalau begini?” Kembali kita diingatkan bahwa salah satu masalah dunia pendidikan kita adalah masih terlalu berorientasi kepada ranah pengetahuan. Para siswa kita memang diakui secara internasional dapat menggondol juara dalam berbagai acara olimpiade sains. Acara Mata Najwa dengan fokus Generasi Pembelajar menunjukkan kepada mata dunia. Dua orang siswa dari Sampang dan Yogyakarta yang nota bene berasal dari keluarga kurang mampu telah berhasil memperoleh piala emas dalam bidang matematika. Siti Fatimah dari Sampang telah mempeoroleh beasiswa untuk meneruskan kuliah di ITB, dan seorang lagi dari Yogyakarta sedang persiapan untuk memperoleh tugas belajar di Jerman (Acara Mata Najwa, 29 Mei 2015).

Rerata Nilai UN dan Indeks Integritas

Kasus ijazah palsu sudah barang tentu tidak terkait dengan kemenangan putra putri Indonesia dalam olimpiade sains dan matematika. Kasus inti terkait dengan ranah afektif, ternyata tidak diperoleh secara seimbang dengan ranah pengetahuan dalam bidang sains dan matematika. Kelemahan peserta didik di negeri ini memang soal sikap dan moralitasnya. Kejujuran menjadi masalah krusial dan kelemahan bagi generasi muda bangsa. Kondisi ini tercermin dari kehidupan sosial negeri ini. Kurupsi, tawuran antar pelajar, dan kejujuran dalam ujian nasional perlu mendapatkan perhatian serius oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan. Oleh karena itu, Menteri meminta laporan tentang dua hal yang terkait dengan hasil ujian nasional. Pertama adalah tentu nilai rata-rata yang telah diperoleh peserta didik. Kedua adalah indeks integritas ujian nasional, dalam arti tingkat kejujuran dalam memperoleh nilai rata-rata peserta didik tersebut. Nilai rata-rata yang tinggi harus diimbangi dengan indeks integritas yang tinggi pula. Kalau nilai rata-ratanya tinggi, tetapi tidak diimbangi dengan indeks integritas yang tinggi, untuk apa? Sejak lama Aristitle telah mengingatkan para penggiat pendidikan bahwa “Educating the mind without educating the heart is no education at all.” Mendidik otak tanpa diimbangi dengan mendidik hati sama sekali bukan pendidikan yang sebenarnya. Bahkan Martin Luther King Jr juga sama-sama mengingatkan bahwa “Intelligence plus character – that is the goal of true education.” Pendidikan yang sebenarnya apabila terjadi proses perpaduan antara pendidikan intelegensi plus pendidikan karakter. Keduanya harus seimbang. Jika tidak maka terjadilah ketimpangan dalam proses dan hasil pendidikan.

Ijazah Palsu dan Pendidikan Karakter

Jelas bahwa kasua ijazah palsu telah mencoreng proses dan hasil pendidikan di negeri ini. Ini menjadi bukti kelemahan pelaksanaan pendidikan karakter di negeri ini. Sudah tentu bukan hanya karena proses pendidikan yang salah, tetapi harus diakui bahwa hal ini terjadi karena tidak adanya keteladanan dari para pemimpin selama ini. Pendidikan karakter selama ini dilaksanakan dengan model pendidikan agama dengan model pengetahuan agama. Yang dipentingkan bukan tentang pengamalan nilai-nilai agama, tetapi menghafalkan rukun-rukun dan ritual agamanya. Sama juga dengan kasus pendidikan olah raga yang dilaksanakan dengan model pengetahuan olah raga. Peserta didik tidak dilatih untuk menguasai keterampilan dalam berolah raga, tetapi hanya diminta untuk menghafalkan panjang lapangan sepak bola, menghafalkan ukuran net bulu tangkis dan bola volley dan sejenisnya.

Secara umum, anak-anak didorong untuk masuk sekolah untuk memperoleh ijazah, bukan untuk memperoleh pengetahuan, sikap, dan keterampilan. Bahkan ijazah itu pun diperoleh dengan cara yang tidak bermartabat. Secara berseloroh negeri ini memiliki perguruan tinggi dengan mama STIA yang artinya Sekolah Tidak Ijazah Ada. Allahu Akbar. Berbeda dengan negeri jiran Malaysia yang telah memberikan contoh tentang pentingnya data base untuk mengurus ijazah. Anak saya, lulusan Universiti Utara Malaysia (UUM), yakni perguruan tinggi yang dibangun di tempat kelahiran Datuk Sri Mahathir Muhammad. Ketika diterima di Bank Mandiri Syariah, tiba-tiba ijazahnya entah tidak tahu kemana. Terpaksa terbanglah ke kampus UUM. Dengan menunjukkan bukti-bukti yang ada tidak seberapa lama UUM kemudian menerbitkan ulang ijazah asli untuk anak saya. Jika hal ini terjadi di negeri sendiri, saya tidak tahu pasti apakah proses seperti ini dapat berlaku di negeri sendiri? Sudah tentu hal ini bisa terjadi karena tertibnya administrasi dan data base administrasi perguruan tinggi di negeri jiran tersebut.

Mudah-mudahan tulisa singkat ini dapat menertibkan administrasi perguruan tinggi, termasuk data basenya, demi kelancaran dan kemajuan pendidikan di negeri tercinta.

*) Laman: www.suparlan.com; Surel: me@suparlan.com.

Depok, 29 Mei 2015.

2 komentar

  1. Alparslan
    Des 08, 2015 @ 07:51:02

    Saya menyukai blog anda yang fiiartaf dan penuh dengan inspirasi belajar dan terus belajar adalah tekat saya sampai akhir hayat. orang yang berhenti menggunakan otaknya untuk berfikir maka detik itulah mati jika semua kehidupannya dan saya bagaimana bisa bekerja di rumah seperti anda ini saya masih mahasiswa dan saya tertarik .

    Reply

  2. Hisham El Qaderie
    Mei 29, 2015 @ 09:15:53

    indah nian jika itu tejadi. tapi kini masalahnya adalah pendidikan sudah masuk komoditas….wallhu a’lam.

    Reply

Komentar

Apabila Anda punya pertanyakan silakan kirimkan pertanyaan Anda ke http://masdik.com/pertanyaan/

*