Kultum 1: Syukur

1. Pertemuan reuni haji pada tanggal 29 Juni 2014 ini ternyata telah memberikan berkah yang begitu besar bagi diri dan keluarga saya. Apa itu? Yakni taushiah dari salah seorang alumni haji, yang kebetulan beliau adalah seorang Ibu. Hikmah tersendiri barangkali. Karena ada keyakinan bagi banyak orang bahwa seorang Ibu agak kurang pas untuk menyampaikan taushian apabila pada saat itu masih ada bapak-bapak. Ketika itu, peserta reusni sepakat Ibu Tukijan yang akan menyampaikan taushiah, dengan judul taushiah “syukur”. Judul inilah yang menjadi judul pertama KULTUM kali ini. Insyaallah, KULTUM ini akan terbit setiap bulan mulai dari Bulah Juni 2014.
2. Syukur biasanya terkait dengan nikmat dari Allah swt. Mau menghitung nikmat dari Allah Swt. Mustahil!! Nikmat dari Allah Swt itu takterhingga. Unlimited, kata orang sekarang. Oleh karena itu, tidak ada kata yang tepat untuk kita ucapkan kepada-Nya kecuali dengan syukur.
3. Syukur itu sesungguhnya merupakan “respon positif” terhadap apa saja yang kita terima. Bukan hanya apa saja yang positif, tetapi yang negatif. Bagi ahli hikmah, semua peristiwa yang kita terima mempunyai kandungan hikmah yang yang tersimpan di dalam semua peristiwa itu. Kalau pun hikmah itu belum kita ketahui, maka belum waktunya saja yang belum kita ketahui.
4. Dalam pengertian syukur, respon positif tersebut harus lahir dari dalam hati yang paling dalam, dari niat kita kita ang paling suci. Setelah itu, respon itu juga harus diucapkan secara lisan, ucapan kita “alhamdulillahirrahmanirahim. Alhamdullah adalah ucapan yang paling sederhana harus disampaikan ketika memperoleh nikmat dari Allah Swt. Sebagai konsekuensi dari niat dan ucapan tersebut, maka syukur itu harus terwujud dalam perilaku atau perbuatan sehari-hari. Perilaku dan perbuatan itu menjadi bukti nyata kesyukuran kita.
5. Walhasil, syukur memiki tiga pilar yang saling kait-mengait, yakni antara niat, ucapan, dan tindakan atau perilaku. Syukur sebenarnya juga berarti sebagai perayaan terhadap nikmat-nikmat Illahi yang kita terika. Kita sepatutnya senantiasa menyampaikan syukur kepada Illahi, bahkan bukan hanya terhadap keberhasilan, kesuksesan, atau apa saja. Bahkan ketika kita menerima ujian, cobaan, dan sejenisnya, kita harus bersabar.
6. Dengan demikian, syukur dan sabar merupakan bukti tertinggi kadar keimanan kita. Amin.

Sumber: Taushiah Ibu Tukijan tanggal 1 Juli 2014, dalam acara Reuni Haji Ummul Quro’ di rumah Ibu Suparlan, Taman Depok Permai Blok D Nomor 6, Kota Depok.

Komentar

Apabila Anda punya pertanyakan silakan kirimkan pertanyaan Anda ke http://masdik.com/pertanyaan/

*