Tujuh Standar Penerapan MBS yang Berhasil

Leadership is inseparable from human interaction. Leadership is more about listening to and understanding each other rather than devising a checklist of behaviors. Leadership is engagement, not detachment or mere observation
( Zach Kelehear)
Dewasa ini Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) menjadi konsep favorit dalam dunia pendidikan sekolah. Konsep ini dipercaya dapat diterapkan di semua satuan pendidikan di tanah air untuk meningkaktkan mutu layanan pendidikan, dan pada gilirannya diharapkan mampu untuk meningkatkan mutu pendidikan sekolah secara keseluruhan.

Konsep MBS ini diterapkan sebagai satu paket kebijakan pendidikan dengan PAKEM (Pembelajaran Aktif, Kreatif, Efektif, dan Menyenangkan) dan PSM (pelibatan peran serta masyarakat). Ketiga konsep tersebut disebut sebagai trisula kebijakan pendidikan. Ketiganya diharapkan dapat menjadi piranti utama dalam upaya peningkatan mutu pendidikan. Itulah sebabnya maka pelatihan tentang MBS, PAKEM, dan PSM telah dan sedang digalakkan oleh berbagai penanggung jawab kegiatan, termasuk yang telah dan sedang dilaksanakan oleh lembaga-lembaga donor, seperti AIBEP (Australia-Indonesia Basic Education Program), MBE (Managing Basic Education) oleh USAIDS, bahkan juga kegiatan yang dilakukan oleh Kementerian Negara Daerah Tertinggal dan Khusus yang dibiayai dengan dana dari Bank Dunia.

Untuk mendukung kegiatan pelatihan tersebut, banyak referensi tentang MBS yang seharusnya diperlukan, termasuk pandangan dari organisasi profesi tentang apa, mengapa, dan bagaimana menerapkan MBS di sekolah. Tulisan tentang standar pelaksanaan MBS oleh Zach Kelehear dan telah dibahas dan disetujui oleh ISLLC (Interstate School Leaders Licensure Consortium) perlu menjadi salah satu referensi bagi sekolah yang menerapkan MBS. Tulisan bertajuk The Art of Successful School-Based Management oleh Zach Kelehear menyebutkan tujuh standar penerapan MBS yang berhasil.

No. Elemen Seni Standar Kecakapan Manajemen (Management Skills)
1 Garis (line) Memfasilitasi satu visi bersama yang disusun bersama oleh komunitas sekolah (facilitating a shared vision that is shared by school community)
2 Nilai (value) Mendukung pembelajaran siswa dan pengembangan kapasitas guru (supporting student learning and teacher development)
3 Shapes (bentuk) Memastikan manajemen organisasi, pelaksanaan, dan sumber daya (ensuring management of organization, operations, resources)
4 Form (pola) Melakukan proses manajemen dengan integritas, keterbukaan, dan menggunakan cara yang etis (acting with integrity, fairness, and in ethical manner)
5 Space (ruang) Mendukung pertumbuhan peserta didik dan guru dalam budaya sekolah (supporting growth of student and teacher within school culture)
6 Warna (color) Memahami dan mampu menjawab konteks politik, social, ekonomi, perundang-undangan secara lebih luas (understanding and responding to larger political, social, economic, legal, cultural contexts)
7 Texture (tekstur) Bekerjasama dengan keluarga dan masyarakat untuk menjawab perpektif yang beraneka ragam (collaborating with families, community members; responding to diverse perspectives)

Ketujuh standar manajemen berbasis sekolah (MBS) tersebut terkait dengan elemen-elemen seni, yang dapat digambarkan dalam tabel sebagai berikut:
Sumber: Zach Kelehear

Secara lebih rinci, ketujuh elemen tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut:

Standar 1 (line): Memfasilitasi satu visi bersama yang disusun bersama-sama oleh komunitas sekolah (facilitating a shared vision that is shared by school community)

Visi sekolah adalah visi bersama. Visi sekolah sama sekali bukan hanya visi kepala sekolah. Apalagi visi yang disusun sendiri oleh konsultan di sekolah tersebut. Visi sekolah harus merupakan visi bersama antara sekolah dan semua pemangku kepentingan (stakeholder). Bagi seorang seniman, visi bersama ibarat sebagai garis yang akan menjadi batas atau parameter yang akan menjadi pedoman dan ukuran untuk standar pencapaian tujuan sekolah. Visi merupakan kristalisasi mimpi dan keinginan dari semua pemangku kepentingan.

Untuk merumuskan visi suatu lembaga atau satuan pendidikan misalnya perlu mengadakan outbond untuk menjaring aspirasi pemangku kepentingan, dan akhirnya dirumuskanlah visi tersebut dalam sebuah kalimat singkat, padat, dan mudah difahami oleh semua pihak. Dengan kata lain, visi harus disusun bersama-sama, dijabarkan bersama menjadi misi dan tujuan sekolah, dan kemudian dilaksanakan bersama oleh semua pemangku kepentingan. Jika visi merupakan rumusan aspirasi dalam bentuk redaksional, maka visi dapat berupa logo yang merupakan rumusan visi dalam bentuk visual, sementara lagu sekolah dalam bentuk suara. Bahkan dapat berupa motto atau cogan kata yang merupakan kristalisasi dari visi itu sendiri. Untuk mencapai visi tersebut semua pemangku kepentingan harus memiliki kompetensi dan memiliki komitmen untuk melaksanakan tugasnya masing-masing dengan penuh tanggung jawab.

Standar 2 (value): Mendukung pembelajaran siswa dan pengembangan kapasitas guru (supporting student learning and teacher development)

Semua kegiatan di sekolah harus berorientasi kepada proses pembelajaran siswa dan peningkatan kompetensi pendidik. Dengan kata lain, fokus kegiatan di sekolah tidak lain dan tidak bukan adalah proses pembelajaran siswa dan pembinaan gurunya. Bagi seorang pelukis, fokus ibarat sebuah ”value” atau nilai dari sebuah lukisan. Tujuan utama proses penyelenggaraan sekolah tidak lain adalah kesejahteraan pedagogis (pedagogical welfare) dan para pendidik di sekolah itu. Semua fasilitas sekolah dan sumber daya yang ada di sekolah semata-mata adalah piranti sekolah untuk mencapai tujuan pendidikan sekolah, yang orientasinya tidak lain dan tidak bukan adalah hasil belajar siswa.

Standar 3 (shape): Memastikan manajemen organisasi, pelaksanaan, dan sumber daya (ensuring management of organizations, operations, resources)

Konsep manajemen berbasis sekolah (MBS) dilaksanakan secara konsisten untuk memastikan agar manajemen organisasi sekolah berjalan secara lancar, manajemen pelaksanaan kegiatan sekolah harus berlangsung dengan transparan dan akuntabel, serta menggunakan sumber daya yang ada di sekolah secara optimal. Bagi seorang seniman, institusi sekolah dan sumber daya yang dimilikinya, serta prosedur operasionalnya, dapat disamakan dengan bentuk suatu karya seni, apakah ia merupakan lukisan, patung, atau pun karya seni lainnya.

Standar 4 (form): Melaksanakan dengan integritas, keterbukaan, dan menggunakan cara yang etis (acting with integrity, fairness, and in ethical manner)

Untuk mencapai tingkat keberhasilan yang optimal dalam pelaksanaan MBS, para petugas dan pelaksananya harus mau dan mampu melaksanakannya dengan komitmen dan semangat kerjasama, keterbukaan, dan tata cara yang etis dan bermoral. Dengan kata lain, penyelenggaraan pendidikan di sekolah harus berjalan secara jujur, penuh tanggung jawab, dan bahkan dilandasi dengan rasa cinta. Bagi seorang seniman, standar yang satu ini dapat disamakan sebagai pola (form).

Standar 5 (space): Menumbuhkan budaya sekolah yang mendukung pertumbuhan peserta didik dan pendidik (supporting growth of student and teacher within school culture)

Penyelenggaraan sekolah dengan menggunakan pendekatan MBS harus tetap berorientasi untuk kepentingan pertumbuhan peserta didik dan guru-gurunya. Tidak akan ada artinya apa pun juga jika perlakukan yang diberikan kepada sekolah tidak berorientasi kepada upaya peningkatan kualitas peserta didik dan gurunya. Kita ingat tentang tiga komponen utama pendidikan, yakni peserta didik, pendidik, dan satu lagi yakni kurikulum. Keluaran (output) dan hasil (outcome) dari keseluruhan proses pendidikan adalah peserta didik. Dan untuk mencapai keluaran dan hasil yang diharapkan, komponen penting yang paling berpengaruh adalah gurunya.

Standar 6 (color): Memahami dan mampu menjawab konteks politik, sosial, ekonomi, perundang-undangan secara lebih luas (understanding and responding to larger political, social, economic, legal, cultural contexts)

Dalam penyelenggaraan sekolah, semua pemangku kepentingan di sekolah pasti akan terlibat, baik langsung maupun tidak langsung, dalam penyelenggaraan sekolah, untuk mencapai tujuan sekolah. Untuk mampu menjawab semua masalah dan tantangan yang dihadapi, semua pemangku kepentingan di sekolah harus mampu menjawab semua masalah dan tantangan yang dihadapi, baik dari aspek politik, sosial, ekonomi, hukum perundang-undangan yang berlaku, serta dalam konteks budaya. Bagi seorang seniman, masalah dan tantangan muncul dalam bentuk yang berwarna-warni. Itulah sebabnya, standar ini disamakan dengan warna (color).

Standar 7 (texture): Bekerjasama dengan keluarga dan masyarakat untuk menjawab perpektif yang beraneka ragam (collaborating with families, community members; responding to diverse perspectives).

Sebagai suatu sistem, semua pemangku kepentingan (stakeholder) di sekolah, termasuk di dalamnya adalah keluarga dan masyarakat, memiliki hak dan kewajiban, serta perannya masing-masing. Bagi seorang seniman, semua komponen yang terlibat dalam penyelenggaraan sekolah dipandang sebagai tektur sebuah karya seni.

Akhir Kata

Bagi seorang seniman, pelaksanaan MBS di sekolah ternyata identik dengan tujuh elemen dalam sebuah karya seni. Tujuh elemen seni dalam sebuah karya seni dapat disamakan dengan tujuh standar pelaksanaan MBS di sekolah. Penerapan ketujuh standar dalam pelaksanaan MBS di Sekolah akan meningkatkan keberhasilan sekolah.

Jakarta, 18 Agustus 2009.

2 komentar

  1. mistar
    Jun 27, 2013 @ 04:57:42

    terimaksih banyak atas postingan anda, semoga bermanfaat buat saya.
    saya ingin refrensi lebih banyak tentang manajemen berbasis sekolah

    Reply

    • Suparlan Basir
      Jul 07, 2013 @ 17:58:38

      Terima kasih kembali. Semoga bermanfaat untuk dapat meningkatkan kinerja Anda. Saya sedang menyelesaikan naskah buku MBS. Daminya sudah jadi, dan mudah-mudahan cepat dicetak. Buku saya yang baru saja terbit berjudul “Praktik-Praktik Terbaik Pelaksanaan Pendidikan Karakter”. Salam.

      Reply

Komentar

*