Nasi Goreng Sehat

Oleh Suparlan *)

Life is education, and education is life
(Prof. Proopert Lodge)

Belajar dapat terjadi kapan saja, di mana saja, oleh dan dari siapa saja, dengan cara apa saja, dan tentang apa saja
(Suparlan)

Nasi goreng dengan bumbu strawberry? Wow…, terus terang saya memang baru dengar, apalagi makan. Aneh. Tetapi itulah pelajaran yang saya peroleh dalam perjalanan dari Jakarta ke Kupang, NTT. Bapak Amron Abdurrachman, seorang teman dari Departemen Agama Jakarta, memang seorang yang nilai memiliki kecerdasan interpersonal yang cukup tinggi. Bagitu duduk di dalam pesawat, beliau langsung akrab dengan Ibu Fatimawati yang duduk di sebelahnya. Ibu Fatimawati adalah orang Alor, yang pulang pergi Alor-Jakarta, karena bidang keahliannya dalam bidang kesehatan alternatif, khususnya tentang tanaman herbal. Saya duduk di sebelah kiri Pak Amron dan langsung ikut aktif terlibat dalam pembicaraan tentang kesehatan. Sedikit banyak saya tertarik dengan tanaman, termasuk tanaman obat.

Sebagai penulis, saya ingin banyak tahu tentang ilmu kesehatan dari Ibu Fatimawati ini, dan akan saya coba menulisnya. Salah satu penjelasan beliau yang menarik adalah tentang menu ’nasi goreng sehat’. ”Wow, ini penting”, pikir saya. Siapa yang cepat menangkap peluang, tentu ini akan menjadi satu peluang yang besar untuk membuka warung berbagai makanan sehat. Siapa yang bisa menulis, tentu hal ini dapat menjadi bahan yang dapat ditulis. Siapa yang memiliki hobi abribisnis, tentu saja ia dapat pula membuka usaha pertanian untuk menanam tanaman obat. Dan masih banyak lagi yang lain. Minimal untuk keperluan menjaga kesehatan diri dan keluarganya.

Kurangi Makanan Yang Digoreng

Salah satu nasihat yang paling saya camkan adalah soal pola makan sehat. Pola makan sehat merupakan salah satu komponen yang amat penting dari pola hidup sehat. Jangan banyak memakan makanan yang digoreng. Apalagi dengan minyak goreng yang harganya melambung tinggi saat ini. Nah, inilah salah satu kuncinya. Lalu, bagaimana dengan nasi goreng? Bukankah nasi itu harus digoreng? Ya, digoreng. Tetapi tidak digoreng dengan minyak goreng. Ini merupakan salah satu rahasia menu nasi goreng sehat.

Bumbu Nasi Goreng Sehat

Ada beberapa bumbu nasi goreng sehat yang harus disiapkan ketika kita akan memasak nasi goreng, yakni (1) buah strowberry secukupnya, (2) lombok, bawang merah, dan garam dapur, juga secukupnya, (3) bisa ditambahkan daun mengkudu yang telah dipotong-poting kecil, (4) wortel yang juga dipotong-potong kecil, dan yang terakhir adalah (5) caisin atau happy salad, sebagai pengganti minyak goreng.

Bumbu pertama dan kedua diuleg dan kemudian dimasukkan ke dalam wajan, yang sudah diberi caisin. Sesudah dianggap cukup matang, lalu masukkanlah daun mengkudu muda dan wortel yang telah dicacah kecil-kecil untuk diaduk bersama dengan bumbu pertama dan kedua. Lalu masukkan nasinya sebanding dengan bumbunya, dan aduklah secara merata sampai merata. Dapat pula ditambah sedikit kecap manis untuk memperoleh warna dan rasa nasi goreng yang lezat dan bergizi untuk menyehatkan. Ingat, makanan yang kita makan seharusnya tidak hanya untuk mengenyangkan perut, tetapi yang lebih penting adalah yang menyehatkan badan kita. Jangan lupa dicicipi sebelum diangkat, apakah rasa garamnya tidak terlalu asin.

Ingin Membuka Warung Sehat?

Apakah Anda berkeinginan untuk membuka warung sehat? Tentu saja menu makanannya dapat berupa nasi goreng sehat. Mengapa tidak? Orientasinya tentu saja jangan hanya untuk memperoleh uang. Bukan hanya membuat orang kenyang. Di dalamnya harus ada niat menyehatkan sesama umat. Kalau umat sehat, maka mereka akan dapat bekerja kuat. Beribadah juga bersemangat.

Artikel ini memang berbeda dengan artikel-artikel sebelumnya. Artikel ini lebih bersifat praktis. Bagaimana membuat menu makanan ”nasi goreng sehat”, yang lain dari biasanya, sekaligus diharapkan dapat mendorong pegiat kuliner untuk mencoba membuka warung sehat.

Ketika saya sedang bertugas di Surabaya, di jalan Embong Malang saya melihat banyak nama warung yang aneh-aneh. Ada-ada saja akal orang Surabaya ini. Ada ”Rawon Setan”. Di tempat lain ada ”Nasi Goreng Gila”. Di tempat lain lagi bisa saja ada ”Rujak Cingur Iblis”. Ini memang termasuk kreativitas tinggi. Tetapi sayang termasuk kreativitas sesat. Hanya untuk menarik para pembeli, mereka harus menggunakan nama-nama yang, terus terang telah membangun citra negatif di dalam diri sendiri dan masyarakat. Jangan-jangan nanti ada nama ”rawon neraka” atau nama-nama yang bisa membentuk citra negatif dalam persepsi kita.

Terus terang secara pribadi saya tidak suka dengan memakai nama-nama itu. Saya tidak akan mau masuk warung atau rumah makan yang menggunakan nama yang seperti itu. Kenapa tidak kita gunakan nama yang baik dan indah, seperti nama “nasi goreng sehat”, “sate lezat Lamongan”, “nasi pindang manfaat Trenggalek”, atau masih banyak nama-nama yang baik lainnya.

Apakah penulis telah mencobanya membuat nasi goreng sehat? Terus terang memang belum. Karena penulis baru bisa menulis dalam perjalanan panjang Jakarta – Kupang – Lembata – Alor – Jakarta. Insyaallah setelah kembali ke rumah, saya akan memasak nasi goreng sehat ala Ibu Fatimah ini bersama istri, anak-anak, dan cucu saya di rumah.

Refleksi

Budaya memasak secara instan memang telah menjadi budaya dunia dewasa ini. Memasak mie instan juga. Padahal kita sama sekali tidak banyak memperoleh informasi yang pasti dan jelas tentang ramuan apa saja yang digunakan untuk membuat mie instan. Padahal ini menjadi salah satu hak azasi untuk memperoleh informasi. Oleh karena itu, ada baiknya jika sekali waktu kita dapat memasak sendiri makanan sendiri dengan bumbu-bumbu yang benar-benar kita ketahui sendiri khasiatnya. Siapa tahu ini dapat menjadi salah satu jalan untuk memperbaiki gizi buruk masyarakat? Mudah-mudahan. Cobalah!!!

*) Website: www.suparlan.com; E-mail: me [at] suparlan [dot] com.

Kupang, 6 Maret 2008

Komentar

*