ARU: Aku Rela Untukmu

Oleh Suparlan *)
Amron Abd. Rachman **)

Harga adalah apa yang Anda bayar, sedangkan nilai ialah apa yang Anda peroleh
(Warren Buffet, CEO Berkshire Hathaway Inc)

Kerjakan hari ini, apa yang jadi keinginan Anda di hari-hari esok
(Robert Kiyosaki, penulis buku The Rich Dad, Poor Dad)

Dimanakah Aru itu? Lengkapnya Kabupaten Kepulauan Aru. Kabupaten ini baru dibentuk empat tahun yang lalu, sebagai pemekaran dari Kabupaten Maluku Tenggara. Kabupaten Kepulauan Aru sendiri menggunakan Kota Kecamatan Dobo menjadi ibukota Kabupaten Kepulauan Aru. Ibukota kabupaten induknya, Kabupaten Maluku Tenggara (Malra) tetap beribukota Tual.

Berbicara tentang Aru, tentu kita masih ingat peristiwa gugurnya pahlawan Trikora Yos Sudarso, yang kapal perangnya ditenggelamkan Belanda di Laut Aru. Di daerah itulah kami bertiga dari Australia-Indonesia Basic Education Program (AIBEP) harus bertugas melaksanakan workshop Whole School Development (WSD) yang diikuti oleh 15 (lima belas) orang peserta dari tiga SMP Satu Atap di kabupaten terpencil ini. Kami bertiga yang sempat sampai di Kepulauan Aru adalah Drs. Suparlan, M.Ed dari Depdiknas, Drs. Amron Abd. Rachman dari Departemen Agama, dan Shandy staf keuangan dari AIBEP.

SMP Satu Atap merupakan salah satu program penuntasan wajib belajar pendidikan dasar sembilan tahun. Lulusan SD yang karena faktor geografis dan sosial ekonomis tidak meneruskan pelajaran di SMP di daerah ini telah diberikan layanan pendidikan agar dapat masuk SMP. Di lokasi SD itu dibangunlah tiga ruang kelas SMP. Salah satu pilar hibah Pemerintah Australia diarahkan untuk membangun ruang kelas SMP tersebut. SMP seperti itu disebut dengan SMP Satu Atap atau SMP Satap, karena SMP itu sementara dikelola bersama dengan SD. SMP Satap memang dibangun di daerah yang terpencil dan terpencar, seperti di Kabupaten Kepulauan Aru ini. Di kabupaten ini telah dibangun tiga SMP Satap, yakni (1) SMP Satap Erersin, (2) SMP Satap Warialau, dan (3) SMP Satap Sewer. Nama-nama yang asing di telinga penulis. Tetapi kemudian segera masuk menjadi kesan mendalam dalam hati, kerena selama kegiatan workshop tersebut, kami selalu berbagi pengetahuan dan pengalaman bersama mereka. Tiga SMP Satap itu kami latih untuk membuat Rencana Pengembangan Sekolah (RPS) dan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). Peserta workshop dari masing-masing SMP Satap tersebut adalah (1) pengawas sekolah, (2) kepala sekolah, (3) guru, (4) komite sekolah, dan (5) orangtua siswa.

Tiga Belas Jam Naik Fery

Perjalanan dari Jakarta ke Aru memang memerlukan waktu yang cukup lama, sekitar dua sampai tiga hari. Perjalanan dari Jakarta ke Aru tentu harus melalui rute Makassar, Ambon, Tual, dan baru kemudian baru tiba di Kota Dobo di Kabupaten Aru. Oleh karena itu, jika tidak ada urusan kedinasan atau urusan bisnis yang penting, maka mungkin kita tidak akan ke sampai ke daerah yang ternyata sangat kaya ini. Terus tentang, kami bertiga dapat sampai ke Aru, karena memperoleh tugas dinas dari AIBEP.

Pada Hari Kamis, tanggal 24 April 2008 kami bertiga berangkat dari Jakarta ke Ambon melalui Makassar. Dalam dokumen perjalanan, kami bertiga seharusnya lansung pindah pesawat baling-baling dari Ambon ke Tual. Ketika itu penumpang pesawat baling-baling itu penuh. Dan kami bertiga terpaksa harus menginap di Ambon. Pukul 08.00 WIT kami baru dapat melanjutkan perjalanan dari Ambon ke Tual. Perjalanan dari Ambon ke Tual memerlukan waktu 1 jam 20 menit. Bandara di Tual adalah bandara perintis yang hanya memiliki landasan pacu yang pendek. Dari Tual ke Dobo ketika itu ternyata tidak ada penerbangan. Karena itu kami bertiga langsung ke hotel untuk kemudian pada pukul 17.00 WIT meneruskan perjalanan ke Dobo dengan kapat fery ASDP.

Pak Amron baru turun dari pesawat di Bandara Dumatubun, Langgur, Kota Tual

Dari Tual ke Dobo dengan fery ASDP? Wowww…. Itulah satu perjalanan yang sangat mengesankan bagi kami. Kami bertiga harus tahan mengikuti perjalanan selama tiga belas perjalanan, pukul 17.00 – 06.00 WIT. Fery KMP Cormomolin dari Tual ke Dobo katanya memang lebih lambat satu jam bila dibandingkan dengan dari Dobo ke Tual. Karena fery itu harus melawan ombak. Kami bertiga memang memperoleh tiket eksekutif dengan harga Rp104.000,00 (seratus empat ribu rupiah). Setelah kami masuk ruangan itu, ternyata kita memperoleh tempat tidur yang diatur berjejer-jejer seperti ikan pindang. Apa boleh buat. Kami harus dapat menikmati kondisi ini. Kami harus segera dapat memejamkan mata agar kami dapat menghilangkan lelah.

Beberapa orang masih asyik mengobrol dan bersenda gurau di dalam ruangan yang cukup dingin itu. Tapi kami terpaksa tidak ikut terlibat dalam acara senda gurau itu. Karena kami menyadari bahwa pelaksanaan kegiatan workshop WSD sudah pasti akan segera menyita banyak waktu dan energi setelah kami tiba di Dobo nanti. Sebelum tidur, kami pun segera  menjamak shalat. Kemudian kami pun tidur cukup pulas di dalam fery itu. Tetapi, tiba-tiba kami terbangun di tengah malam, sekitar pukul 13 sampai 14 WIT, kami tiba-tiba merasakan goyangan fery yang lebih kuat dari sebelumnya. Dan kami pun mendengarkan bunyi hantaman ombak ke dinding fery. Tidur pun terasa tidak nyaman lagi. Badan kami  mengikuti irama alunan ombak yang telah menggoyang-goyangkan badan fery dengan kuat. Lama-kelamaan, kami pun tertidur lagi. Selang beberapa jam kami tertidur, kami pun segera bangun lagi, ketika ada pemberitahuan bahwa fery ASDP segera akan merapat ke pelabuhan Dobo. Sekitar pukul 07.00 WIT, kami pun segera turun dari fery ke pelabuhan Dobo. Bu Niken, seorang District Coordinator (DC) menjemput kami dan membawa kami ke Hotel Sinar Harapan.

Workshop Whole School Development (WSD) di Aru

Tugas utama kami di Aru, mulai Hari Senin sampai Kamis, tanggal 28 April – 1 Mei 2008,  adalah menjadi national trainer dalam kegiatan workshop WSD untuk 15 orang peserta dari tiga SMP Satap di Aru. Syukur, kami dibantu oleh Ibu Evie, seorang widyaiswara Bahasa Indonesia di Lembaga Penjaminan Mutu Pendidikan (LPMP) Provinsi Maluku. Produk yang akan dihasilkan dalam kegiatan ini adalah draft (1) Rencana Pengembangan Sekolah (RPS) dan (2) Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) untuk masing-masing SMP Satap.

Selama kegiatan workshop tersebut, kami memang bertugas menyampaikan kedua materi tersebut. Tetapi sesungguhnya kami lebih banyak menyampaikan pengalaman-pengalam dan memberikan motivasi agar para pemangku kepentingan (stakeholder) yang diharapkan dapat ikut bersama-sama membesarkan SMP di daerah terpencil yang baru didirikan ini. Seorang kepala sekolah menyampaikan keluhan, karena ia harus keluar masuk kampung untuk membujuk anak-anak untuk mau masuk SMP Satap itu. Maklum, SMP Satap itu belum memiliki fasilitas yang amat terbatas. Meja kursi siswanya saja masih belum ada, apalagi ruang perpustakaan, ataupun ruang laboratoriumnya. Oleh karena itu, ada beberapa siswa yang berasal dari keluarga yang sedikit mampu terpaksa memindahkan anaknya ke SMP di kota. Motivasi yang kami berikan kemudia adalah agar kepala sekolah mampu membangun kepercayaan kepada masyarakat bahwa SMP Satap ini memiliki masa depan yang bagus. SMP Satap harus mampu membangun competitive advantages atau kelebihan atau keunggulan kompetitif jika dibandingkan dengan SMP lain di kota. Anak-anak yang dididik di SMP Satap akan memiliki kemampuan, bukan hanya dari aspek akademis, tetapi juga aspek nonakademis yang lain, misalnya dalam bidang olahraga, keterampilan, kesenian daerah, dan bahkan disiplin yang tinggi. Dari aspek-aspek inilah masyarakat akan secara bertahap memiliki kepercayaan kepada SMP ini. Masyarakat akan memperoleh dan merasakan manfaatnya jika menyekolahkan anaknya di SMP Satap. Misalnya, jaraknya yang tidak jauh dari rumahnya, tidak memerlukan biaya tinggi untuk biaya transpor. Lebih dari itu, anak-anaknya telah merasa senang dapat bersekolah di SMP satap. Ini sangat penting. Hanya dalam suasana yang menyenangkanlah, peserta dididk akan dapat belajar secara optimal.

Secara spontan kami memberikan contoh konkrit bagaimana sebuah sekolah Al Azhar yang pada awalnya siswanya hanya belasan siswa. Segera setelah salah seorang siswa Al Azhar terkenal dapat menjadi juara puisi di tingkat provinsi, maka lahirlah kepercayaan masyarakat terhadap sekolah itu. Kini Al Azhar menjadi salah satu sekolah favorit di Jakarta. Dengan contoh pengalaman seperti itu diharapkan kepala sekolah di SMP Satap dapat membangun citra (image) sekolah, sehingga masyarakat menjadi jatuh cinta kepada SMP Satap.

Kelapa Tak Berharga

Ketika bertugas diMalaysia, penulis sempat melihat banyak kelapa tua yang bertebaran di bawah bawah pohonnya di negeri Selangor. Kelapa-kelapa itu bahkan telah tumbuh liar di sekitar pohon kelapa itu. Ternyata penulis melihat hal itu persis sama dengan yang ada di bumi mutiara, Kepulauan Aru. Banyak kelapa menjulang tinggi, dan buahnya bertebaran tak berharga. Sungguh, merdunya nyanyian Rayuan Pulau Kelapa seakan tidak berdaya sama sekali untuk menaikkan nilai-nilai dan martabat kelapa bagi manusia. Di tengah era globalisasi saat ini, nilai dan martabat kelapa memang mengalami pasang surut sampai ke titik nadir. Persaingan ekonomi dunia antara lain telah membuat nilai kelapa jatuh. Hembusan informasi bahwa minyak kelapa mengandung kolesterol tinggi, menyebabkan masuknya impor minyak jagung dari negara asing. Tidak hanya itu! Industri rumah yang mengolah minyak kelapa hilang tak berbekas. Industri hilir pengolahan berbagai hasil dari kelapa juga mengalami nasib yang sama. Walhasil, kelapa di negeri sendiri menjadi nyaris tidak berharga. Hanya kelapa muda sajalah yang mungkin masih bisa menyegarkan kita.

Kelapa yang tak berharga, tumbuh liar di sepanjang pantai selatan Kepulauan Aru

Beberapa hari yang lalu, penulis mencoba untuk mencari buah-buahan di toko Total Buah Segar di kawasan Jakarta. Penulis melihat tumpukan buah kelapa muda yang diberi label ”kelapa bakar”. Dari mana? Dari Aru??? Tidak!!  Kelapa bakar itu ternyata diimpor dari Thailand. Begitukah kita menghargai kelapa di negeri? Kita buang-buang kelapa di negeri sendiri, tetapi kita impor dengan harga tinggi kelapa dari negara asing?

Di tengah rendahnya penghargaan kita terhadap kelapa, telah lahirlah inovasi pembuatan VCO (virgin oil coconut) dari Yogyakarta. Berbeda dengan produk minyak kelapa pada umumnya, VCO justru dipercaya menyehatkan dan cukup menjanjikan sebagai produk diversivikasi yang laku dijual. Tetapi di antara produk VCO dari negeri sendiri, kini produk VCO dari negara jiran juga telah membanjiri pasar di negeri sendiri. Dengan demikian, kelapa yang nyaris tidak berharga di negeri ini dapat segera dapat diangkat lagi martabatnya melalui usaha diversifikasi industri yang tak kenal berhenti.

Mutiara Aru

Aru dikenal dengan daerah penghasil komoditas dollar di Indonesia. Dari mana? Dari hasil mutiaranya. Jika mutiara Cina merupakan produk mutiara kerang air tawar, maka mutiara Aru asli mutiara air laut. Kalau setiap kerang air tawar dapat menghasilkan lebih dari satu butir mutiara, maka setiap kerang air laut sementara ini hanya dapat menghasilkan satu butir mutiara saja. Itulah yang menyebabkan mahalnya harga mutiara Aru. Itulah menjadikan Aru sebagai daerah dollar di negeri ini. Sayang, rakyat tidak dapat menikmati tingginya harga mutiara Aru, karena usaha kerang mutiara ini telah dikuasai oleh para pedagang yang telah memiliki jaringan pemasaran internasional.

Butir-butir mutiara Aru

Butir-butir mutiara Aru

Berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk menghasilkan sebutir mutiara? Walah-walah. Kita dapat memetik mutiara setelah nucleus yang ditanam dalam kerang itu berumur dua tahun. Harga mutiara ini tergantung besar kecil dan kualitasnya. Makin besar dan makin tinggi kualitas mutiara, semakin tinggi harganya. Penulis mencoba membeli dua butir kecil mutiara berwarna hitam kehijau-hijauan seharga seratus lima puluh ribu rupiah sebutirnya. Meski kualitas mutiara itu dapat dibedakan antara mutiara air tawar dengan mutiara air laut, namun sungguh penulis tidak dapat menjelaskan bagaimana perbedaannya.

Ikan Laut

Illegal fishing? Di Aru tempatnya. Bahkan di Aru terdapat kasus illegal fishing terbanyak di negeri ini. Ini kenyataan. Lautnya yang luas, hasil lautnya yang melimpah merupakan daya tarik yang besar bagi nelayan asing untuk mengeruk kekayaan Kepulauan Aru ini. Penulis menyempatkan diri ke pelabuhan Tempat Pelelangan Ikan. Kapal-kapal nelayan merapat ke pelabuhan dan membawa sekian banyak ikan segar. Rahmat Allah demikian besar. Allah memelihara ikan-ikan itu laut, dan manusia tinggal mengambilnya. Tentu saja harus melalui kerja keras dan cucuran keringat. Makanan yang ada di dalam piring pun masih harus disendok agar masuk ke mulut kita.

Seorang pengusaha ikan dari Australia, yang menginap di hotel yang sama dengan penulis, mengkritisi pemerintah dan pemerintah daerah yang dinilai tidak memiliki institusi yang mengatur arus investasi di negeri ini. Memang, rakyat tidak akan memperoleh apa-apa dari kekayaan alam yang melimpah ini, jika pemerintah dan pemerintah daerah tidak dapat memberikan layanan dalam pengelolaan kekayaan alam itu secara adil dan transparan. Rakyat hanya akan menjadi sapi perahan, dan yang untung adalah tetap para tengkulak dengan segala kiat-kiat bisnisnya. Konon, dalam kondisi yang seperti ini pun pengusaha ikan itu masih dapat mengeruk keuntungan yang sangat besar dengan membeli ikan-ikan olahan dari para pedagang ikan di Aru dan mengekspornya melalui Singapura.

 

Suasana di Tempat Pelelangan Ikan di Aru

 

Suasana di Tempat Pelelangan Ikan di Aru

Kekayaan alam ikan yang melimpah di Aru ini sejak lama telah melahirkan beberapa nyanyian daerah tentang kekayaan ikan. Berikut ini, nyanyian tradisional Aru bertajuk “Ruban Ronga” atau Cakalang Banyak.

Ruban Ronga
Cakalang Banyak

Ruban oh ruban ronga ona na Baen lou
Cakalang cakalang banyak-banyak di Ngaibor
Bin je bai gai datalar dai tit
Burung Talang duduk di atas
Kutar kanang sikoi koi ku pera koi lou
Dayung sampan ke laut penggayu maju
Kupera kutan Ruban Ronga
Penggayu tongka dengan ikan
Sikoi koi ikeru kaling jisin er tarerna
Sampan maju mundur mata kail su tagae
Kat kolna  kumasi koi koi
Kutarik dalam perahu

Coba bandingkan dengan lagu daerah Madura ”Tanduk Majeng” yang artinya ”Pulang Memancing” berikut ini.

Tanduk Majeng
Pulang Berlayar

Ngapote wak lajere etangale
Memutih itu layar kelihatan
Reng majeng tantona la padhe mole
Orang berlayar tentu sudah pada pulang
Alajere dari Ombet pajelena
Berlayarnya dari Ombet jalannya
Mak cik benyak ongguh le olena
Begitu banyak sungguh didapatnya

Reff.

Ole olang, paraunya wak lajere
Ole olang, perahunya ’tu berlayar
Ole olang, alajere ke Madura
Ole olang, berlayar ke Madura

Akhir Kata

Akhir kedua lagu daerah itu — dari daerah Aru dan dari daerah Madura itu — menjadi pertanda dari akhir dari tulisan tentang Aru ini. Aku rela untukmu. Rela untuk melanglang pulau dari Kepulauan Kei ke Kepulauan Aru selama tiga belas jam naik fery ASDP. Alhamdulillah, penulis bersyukur dapat sampai di Aru, untuk dapat menikmati keindahan alamnya, keperawanan pantainya, dan berbagi pengetahuan dan pengalaman bersama para kepala sekolah, guru, pengawas, dan komite sekolah. Bersama mereka, kami membangun motivasi dan keyakinan bahwa hanya dengan pendidikan, kita dapat membangun SDM di negeri ini. SDM yang mampu menghargai kekayaan negeri, dan mengolahnya untuk kesejahteraan rakyat.  Hanya dengan melalui pendidikan pula, kita dapat menjadi pelaku pembaharuan untuk membangun negeri yang kaya raya ini. Amin.

*) Website: www.suparlan.com; E-mail: me [at] suparlan [dot] com. Konsultan Pembinaan Dewan Pendidikan dan Komite Sekolah, Direktorat Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah;

**)  Amron Abd. Rachman, Bagian Perencanaan dan Data, Departemen Agama.

Dobo, 2 Mei 2008

 

6 komentar

  1. Julianti KUBELA
    Mei 30, 2017 @ 03:58:42

    Terima kasih bapak untuk ceritanya
    Sebagai orang ARU asli saya sangat terkesan dengan tulisan bapak karna bapak biarpun berasal dari daaearh lain tapi bapak suda bisa menulisan dan menggambarkan sebagian dari daerah saya.

    Reply

    • fitri
      Jun 24, 2017 @ 02:49:23

      saya akan bertugas sebagai guru di aru, tepatnya SDN Sewer, bisa tolong beri saya gambaran seperti apa disana… listrik, air, sinyal.. saya berusaha cari info tentang aru tapi rasanya minim sekali di google ini.. mungkin bisa langsung info ke saya di fitriwidyastutimei16@gmail.com

      Reply

  2. Suparlan Abdulbasir Salim
    Agu 08, 2014 @ 22:47:54

    Cerita ini saya tulis tahun 2008. Ketika saya masih menjadi national trainer untuk proyek AIBEP. Ketika itu saya sudah pensiun. Semangat menulis masih menyala-nyala, yang insyaallah akan saya bawa sampai akhir hayat. Kenangan indah yang menjadi catatan sejarah kehidupan saya. Kalau Bapak berasal dari Aru, dan sering pergi ke Aru, mohon perkenan dapat mengunjungi tempat-tempat yang saya sebutkan dalam tulisan itu, terutama SMP Satapnya. Kalau perlu tulis perkembangan kondisinya saat ini, dan mohon dapat dikirimkan kepada saya melalui e-mail me@suparlan.com. Terima kasih.

    Reply

  3. Suparlan Abdulbasir Salim
    Agu 08, 2014 @ 11:04:06

    Wallahu alam. Saya lama tidak komunikasi. Tidak ada tugas lagi ke sana. Ingin sekali. Apakah Pak Viktor aslinya dari Aru atau gimana? Inilah cerita terpanjang yang pernah saya tulis ketika visit ke daerah. Salam.

    Reply

  4. viktor
    Agu 05, 2014 @ 08:49:41

    Makasih Bapak untuk cerita singkat tentang Kab.Kep. Aru kebetulan saya lagi cari – cari tentang aru ketemu diwebsite Bapak. Saya mau tanya tentang Sekolah SATAP itu masih berdiri sampai sekarang atau bagaimana?

    Reply

    • suparlan
      Mei 30, 2017 @ 05:56:59

      Memang itu tulisan lama, datanya mungkin belum mengalami perubahan, misalnya jumlah kecamatan, jumlah sekolah, siswa yang berprestasi, data dan informasi lainya. Kalau ada perlu ditambah foto-foto yang menarik.

      Reply

Komentar

Apabila Anda punya pertanyakan silakan kirimkan pertanyaan Anda ke http://masdik.com/pertanyaan/

*