Membangun Budaya Sekolah

Naskah buku ini sebenarnya telah mulai ditulis mulai tahun 2009 lalu. Selain mengggunakan sumber kepustakaan, buku ini memang sengaja mengundang kontributor untuk dapat memberikan saran dan masukan terhadap buku ini. Alhamdulillah, dengan media e-mail, banyak teman-teman yang telah memberikan saran dan masukan untuk lebih memberikan warna terhadap substansi yang dibahas dalam buku ini.

Ini adalah rencana Kata Pengantar untuk penerbitan buku bertajuk Membangun Budaya Sekolah. Melalui media ini, sebagai penggagas dan penulis, saya masih memberikan peluang untuk para pecinta buku untuk dapat memberikan saran dan masukan dengan mengirimkannya melalui e-mail me@suparlan.com. Biasanya jika naskah sudah final, saya terus mengirimkan kepada penerbit yang biasa menerbitkan buku saya. Kali ini, jika ada penerbit yang berminat, silahkan menghubungi e-mail tersebut untuk dapat menerbitkan buku ini. Yang terpenting, kita berharap agar buku ini dapat secepatnya beredar dan dibaca oleh masyarakat belajar dalam dunia pendidikan.

Mudah-mudahan informasi melalui laman pribadi saya ini dapat dibaca secara luas dan mencapatkan respon yang positif.

 

Pengantar

 

Sekolah merupakan cermin kehidupan dalam masyarakat. Apa yang terjadi di dalam sekolah ibarat cermin yang menggambarkan keadaan masyarakat. Demikian sebaliknya apa yang terjadi dalam masyarakat akan tergambar pula dalam sekolah. Itulah sebabnya maka ketika dalam panggung sidang parlemen telah terjadi baku pukul sesama anggota DPR yang terhormat, maka dapat pula kita melihat baku pukul antarsiswa di dalam sekolah. Demikian juga sebaliknya jika ketika di lembaga pendidikan sekolah terdapat pendidik yang menampar murid-muridnya, kita akan segera membuat refleksi bahwa kejadian seperti itu ternyata juga ada para layar lebar panggung kehidupan nyata dalam masyarakat, seperti dapat kita saksikan di media massa adanya demonstrasi anarkis oleh warga masyarakat terutama oleh golongan masyarakat kelas menengah ke bawah, seperti pedagang kaki lima (PKL) yang berantem dengan satuan polisi pamong praja (SATPOL PP). Dengan demikian, wajah lembaga sekolah dan wajah institusi masyarakat kedua-duanya adalah layar lebar yang dapat kita jadikan cermin pembelajaran bagi kita.

Dengan demikian, jika kita ingin mencetak warga  masyarakat yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, sebagai contoh, kita harus menanam benih-benih keimanan dan ketakwaan itu di lembaga pendidikan sekolah. Tentu saja harus dimulai dan diawali di lembaga pertama dan utama pendidikan yang kita sebut dengan nama keluarga (family), dan kemudian dimantapkan dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara. Jika ingin mencetak masyarakat yang jujur, bebas dari perilaku kolusi dan korupsi, kita juga harus membangunnya budaya jujur itu dalam ketiga jalur pendidikan tersebut, yakni pendidikan informal, pendidikan formal, dan pendidikan nonformal. Ketiga jalur pendidikan itu merupakan satu kesatuan sinergis dari sistem pendidikan nasional. Gagasan orisinal yang diajukan KPK (Komite Pemberantasan Korupsi) membangun kantin kejujuran di ribuah sekolah di negeri tercinta ini dilandasi oleh pemikiran tersebut.

Buku bertajuk Membangun Budaya Sekolah ini disusun sebagai salah satu upaya untuk meningkatkan kepedulian kita dalam menyemai budaya sekolah positif (positive school culture) dan membasmi budaya sekolah negatif (negative school culture). Upaya ini menjadi penting dan strategis karena sekolah bukan hanya mementingkan aspek akademis semata-mata, tetapi juga sangat memperhatikan aspek nonakademis. Proses pendidikan di lembaga pendidikan sekolah tidak hanya untuk meningkatkan aspek pengetahun peserta didik, tetapi juga untuk meningkatkan sikap dan keterampilannya. Ketiga aspek ini dikenal dalam dunia pendidikan dengan ranah kognitif, afektif, dan psikomotorik. Dengan kata lain, proses pendidikan di lembaga pendidikan sekolah tidak hanya mengasah kemampuan otak kiri, tetapi juga otak kanan, yang dikenal dengan olah otak, olah hati, dan olah raga.

Proses penulisan buku Membangun Budaya Sekolah ini dicoba dengan cara yang tidak seperti biasan, yaitu dengan menggunakan sejumlah buku referensi. Selain tetap menggunakan sejumlah kepustakaan, juga dengan cara menawarkan saran dan masukan melalui media internet kepada siapa saja untuk bergabung menjadi kontributor dalam proses penulisan buku ini. Beberapa orang pengamat pendidikan dan para penulis terkenal dalam blog pribadinya, dosen perguruan tinggi, dan mahasiswa yang masih belajar di perguruan tinggi di dalam dan luar negeri, telah melakukan diskusi dengan penulis melalui internet. Saran dan masukan mereka ikut memperkaya khasanah keilmuan tentang budaya sekolah yang akan dijelaskan dalam buku ini.  Daftar kontributor yang telah memberikan saran dan masukan berharga dalam buku ini dapat dilihat sebelum daftar pustaka dalam buku ini.

Gagasan penulisan buku ini sebenarnya timbul memang sudah agak lama.  Setidaknya gagasan tersebut timbul bersamaan dengan lahirnya gagasan kantin kejujuran oleh KPK beberapa waktu yang lalu. Bersamaan dengan itu, penulisan buku ini baru dapat dimulai setelah penulisan buku Membangun Sekolah Efektif mencapai fase inkubasi (pengendapan). Kedua buku ini memang memakai tajuk yang hampir sama, yakni ‘membangun’, karena keduanya sama-sama mempunyai makna ‘menciptakan’, dalam arti bukan hanya dari segi fisiknya berupa gedung sekolah, tetapi yang lebih penting adalah isinya, manusianya, warga sekolahnya, khususnya peserta didik yang menjadi subyek dalam proses panjang pendidikan di lembaga pendidikan sekolah.

Sebelum buku ini selesai ditulis, penulis memperoleh buku bertajuk Potret Kemajuan Pendidikan Dasar dan Menengah: Dari Akses Menuju Mutu. Buku tersebut disusun berdasarkan hasil wawancara dengan Prof. Suyanto, Ph.D, Direktur Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah, Departemen Pendidikan Nasional. Mudah-mudahan buku ini dapat menjadi salah satu bentuk penerapan dari konsep-konsep yang tertuang dalam buku tersebut.

Mudah-mudahan buku ini bermanfaat untuk dapat meningkatkan mutu pendidikan di tanah air tercinta Indonesia dan menjadi amal untuk kehidupan kelak. Amin.

Depok, Awal 2009.

Komentar

*