Delapan Ciri Sekolah Yang Baik

Jalan terpenting untuk mempertinggi mutu sekolah-sekolah itu ialah mempertinggi mutu pendidiknya

(Mr. Muhammad Yamin)

Pendidik merupakan tenaga profesional yang bertugas merencanakan dan melaksnakan proses pembelajaran, menilai hasil pembelajaran, melakukan pembimbingan dan pelatihan, serta melakukan penelitian dan pengabdian kepada masyarakat, terutama bagi pendidik pada perguruan tinggi

(Pasal 39 (2) UU Nomor 20 Tahun 2003).

***

Sesuai dengan namanya, Raymond L. Young Elementary adalah Sekolah Dasar yang telah digagas dan didirikan oleh Raymond L. Young pada tahun 1929. Gedung sekolah yang demikian megah ini menunjukkan adanya gagasan yang megah dari pendirinya. Tentu saja, kemegahan gedung sekolah ini telah menumbuhkan rasa kebanggaan tersendiri baik bagi pendirinya, maupun bagi para guru, siswa, dan sekaligus orangtuanya.

Misi Sekolah

R.L. Young Elementary School mempunyai misi yang sangat bagus yakni “provides a safe and nurturing environment in order to challenge students to become life-long learners and responsible, resourceful, and respectfull citizens” atau menyediakan lingkungan yang aman dan memelihara untuk menantang peserta didik menjadi pembelajar sepanjang hayat dan warga negara yang bertanggung jawab, panjang akal, serta rasa hormat.

Delapan Ciri Sekolah

Dalam usia lebih dari delapan puluh tahun, R.L. Young Eelementary School telah memiliki segudang pengalaman tentang karakteristik sekolah yang baik. Pengalaman-pengalaman tersebut didukung pula oleh pendapat para ahli tentang pendidikan pada umumnya dan para ahli dalam pengajaran dan pembelajaran.

Delapan ciri sekolah yang bagus tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut

Pertama, high expectations for every student. Harapan yang tinggi untuk setiap peserta didik

Ciri pertama ini memang tidak hanya dibentuk oleh sekolah, tetapi juga mulai dibentuk di dalam keluarga. Semangat untuk mencapai prestasi yang tinggi sudah harus dimulai dari lingkungan keluarga. Sejak keberangkatannya ke sekolah, anak-anak sudah harus dimotivasi untuk belajar dengan giat agar dapat mencapai prestasi yang tinggi. Belaian kepala, ataupun ciuman kening dari orangtuanya, ciuman tangan orangtuanya oleh sang anak harus diiringi dengan harapan dan do’a agar sang anak agar sang anak memiliki semangat yang tinggi agar dapat mencapai prestasi yang tinggi. “Belajar yang tekun ya nak!”, harus menjadi kata-kata motivasi mukjizat yang sering diucapkan oleh ayah dan bundanya. Dalam teori hypnoparenting (hypnosis untuk para orangtua dalam mendidik anaknya) dijelaskan bahwa belaian kepada anak menjelang tidur akan menjadi motivasi yang masuk ke bawah alam sadar anak-anak kita. Marilah kita coba, belailah anak ketika hendak berangkat tidur, ketuk-ketuklah dahi anak dengan ujung jari-jari kita dengan lembut dan berirama, atau pada ubun-ubunnya, atau di atas alisnya, atau di atas bibirnya, dan ketika anak kita akan masuk ke alam bawah sadar, sebelum dia tertidur lelap, ucapkanlah kata-kata motivasi, misalnya “belajarlah dengan tekun anakku”, atau “jadilah anak yang sholeh atau sholehah”, atau “patuhilah perintah ayah bunda’, dan kata-kata motivasi lainnya sesuai dengan harapan dan do’a orangtua untuk anaknya tercinta.

Jika ketika masuk sekolah anak-anak kita telah membawa harapan yang tinggi untuk mencapai prestasi, maka insyaallah proses pengajaran dan pembelajaran akan berlang-sung lancar dan berhasil.

Kedua, parent and community support. Dukungan orangtua dan masyarakat.

Tidak dapat disangkal lagi bahwa keluarga merupakan institusi pertama dan utama dalam pendidikan. Orangtua tidak dapat hanya menyerahkan bulat-bulat kepada guru atau sekolah. Bahkan masyarakat juga harus mempunyai kepedulian terhadap kemajuan pendidikan di sekolah. Itulah sebabnya, sekolah perlu didukung adanya Komite Sekolah, sebagai wadah peran serta masyarakat dalam bidang pendidikan di sekolah. Di Malaysia, lembaga ini dinamakan Persatuan Ibu Bapa dan Guru (PIBG). Di Amerika Serikat, lembaga ini dikenal dengan PTO (Parent Teacher Organization). Salah satu ciri sekolah yan baik adalah adanya dukungan dari orangtua dan masyarakat.

Ketiga, a rigorous curriculum and fair assessments. Kurikulum yang ketat dan penilaian yang adil

Sekolah yang baik jika kurikulum yang telah disusun dilaksanakan secara ketat. Untuk ini, satuan pendidikan sekolah harus menyusun KTSP (Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan) sesuai dengan standar isi yang telah ditetapkan oleh pemerintah. Untuk menjadi pedoman dalam menyusun RPP (Rencana Pelaksanaan Pembelajaran), kurikulum tersebut harus dijabarkan ke dalam silabus yang disusun oleh guru bersama dengan kelompok kerja guru (KKG) untuk Sekolah Dasar, dan untuk SMP dan SMA/SMK, silabus itu disusun bersama dengan MGMP (Musyawarah Guru Mata Pelajaran). Tentu saja, semua perangkat kurikulum ini harus dimiliki oleh sekolah yang baik.

Salah satu aspek yang sangat penting terkait dengan penerapan kurikulum ini adalah adanya proses penilaian pendidikan yang adil. Prestasi belajar peserta didik harus ditentukan dari hasil penilaian yang telah dilaksanakan secara jujur. Proses penilaian yang tidak jujur, misalnya dilakukan dengan cara menyontek, akan menumbuh-suburkan bibit perilaku koruptif bagi semua pemangku kepentingan. Perilaku koruotif yang terjadi dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara, boleh jadi telah lahir dari perilaku tidak adil dalam proses penilaian pendidikan yang tidak adil di sekolah.

Keempat, sufficient resources to help all students achieve. Sumber daya yang cukup untuk membantu semua siswa mencapai hasil belajar yang dicita-citakan.

Sumber daya berupa sarana dan prasarana pendidikan memang perlu dimiliki oleh sekolah yang baik. Gedung sekolah yang rusak berat, sebagai contoh, sudah barang tentu tidak akan menjadi tempat belajar yang menyenangkan bagi anak. Demikian juga dengan sarana belajar yang lain, seperti buku pelajaran, media pembelajaran, dan aspek-aspek lain yang mendukung proses pengajaran dan pembelajaran. Sebagai contoh, di kampus Sampoerna School of Education (SSE), semua kelas telah dilengkapi dengan infocus. Bahkan semua dinding dan sekat antarkelasnya terbuat dari bahan white board yang dapat berfungsi sebagai papan tulis. Dengan demikian, dosen atau guru dan siswa dapat menggunakan seluruh dinding kelasnya sebagai tempat untuk belajar. Lebih dari itu, kampus ini memang dilengkapi dengan berbagai peralatan untuk mempraktikkan semua pendekatan instruksional seperti PAKEM (pembelajaran aktif, kreatif, efektif, dan menyenangkan) atau JAL (joyful active learning), serta CTL (contextual teaching and learning) dengan berbagai metode mengajarnya, seperti role play, praktik, dan sebagainya yang didukung dengan sarana yang memadai.

Kelima, safe, healthy, and supportive learning environments. Lingkungan belajar yang aman, sehat, dan mendukung.

Pertanyaan pertama yang diajukan oleh seorang guru di sekolah yang bagus, justru bukan tentang “apakah pekerjaan rumah telah dikerjakan”, melainkan “apakah anak-anak telah mandi dan mencuci rambutnya dengan keramas”. Bahkan sang guru pun mencoba mencium rambut siswa, seperti yang dilakukan terhadap anaknya sendiri. Dengan kata lain, lingkungan belajar di sekolah yang baik memang disediakan dengan lingkungan yang aman, sehat, dan mendukung proses pembelajaran. Lingkungan sekolah yang bersih, indah, dan asri, sudah pasti akan menjadi lingkungan yang didambakan oleh semua pemangku kepentingan di sekolah, termasuk orangtua dan masyarakatnya. Oleh karena itu, sekolah harus mengupayakan adanya UKS yang dilaksanakan dengan baik di sekolah. Membuat taman bunga di depan kelas masing-masing sangat mungkin diupayakan oleh wali kelas masing-masing. Tempat cuci tangan untuk guru dan siswa di setiap kelas sebenanya bukan sarana yang terlalu mewah untuk diadakan di setiap kelas. Semua itu hanya tergantung oleh kemauan baik mulai dari guru kelas atau wali kelas sampai dengan wakil kepala sekolah dan kepala sekolahnya.

Keenam, schools and classrooms equipped for teaching and learning. Sekolah dan ruang kelas dilengkapi untuk proses pengajaran dan pembelajaran.

Kampus Sampoerna School of Education (SSE) telah dapat menjadi contoh bahwa semua ruang kelasnya telah dilengkapi dengan infocus, karena proses pembelajarannya telah berbasis ICT atau komputer. Bahkan semua dinding kelas dan sekat antarkelasnya pun telah dibuat dengan menggunakan bahan white board. Oleh karena itu, semua dinding dan sekat antarruang kelasnya sekaligus dapat digunakan untuk proses pengajaran dan pengajaran di dalam kelas.

Ketujuh, qualified teachers in every classroom. Guru yang memenuhi telah memenuhi kualifikasi di setiap ruang kelas.

Mr. Moh. Yamin sejak masa perjuangan kemerdekaan telah mengingatkan kepada para pelaksana pendidikan bahwa pendidikan yang berkualitas hanya akan dapat dicapai jika gurunya berkualitas. Dalam hal ini, standar nasional pendidikan telah menetapkan bahwa minimal guru berkualifikasi S1 atau D4. Selain kualifikasi yang memadai, guru harus menguasai kompetensi yang meliputi 4 (empat) jenis kompetensi, yang meliputi 1) kompetensi kepriadian, 2) kompetensi pedagogik, 3) kompetensi profesional, dan 4) kompetensi sosial.

Kedelapan, strong school leadership. Kepemimpinan sekolah yang kuat.

Pucuk pimpinan di sekolah adalah kepala sekolah. Oleh karena itu, maka kepala sekolah harus mampu melaksanakan fungsi-fungsi manajemen di sekolah, meliputi 1) perencanaan (planning), 2) pengorganisasian (organizing), 3) pelaksanaan (actuating), dan 4) pengawasan (controlling), yang sering disingkat POAC. Ahli filsafat Aristoteles menyatakan bahwa “He who has never learned to obey cannot be a good commander.

(Ia yang tidak pernah belajar untuk taat tidak dapat menjadi seorang pemimpin yang baik). Dengan demikian, mereka yang akan memimpin sekolah, sebelumnya sudah harus belajar menjadi anak buah yang taat. Kalau tidak pernah menjadi anak buah yang taat, tidaklah dapat diharapkan akan menjadi seorang pemimpin yang cakap.

Refleksi

Delapan ciri yang telah dijelaskan di atas merupakan hasil pengalaman Raymod L. Young ketika mulai mendirikan sekolahnya dan mengembangkan sekolah itu menjadi lingkungan belajar yang menantang bagi peserta didik untuk menjadi pembelajar sepanjang hayat, dan menjadi warga negara yang bertanggung jawab, panjang akal, dan rasa hormat dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Mudah-mudahan tulisan singkat ini dapat menjadi ilmu yang bermanfaat sebagai amal untuk kehidupan kelak. Amin.

Sumber: http://rlyoung.blogspot.com

Depok, 16 Desember 2012.

23 komentar

  1. Syamsuddin
    Jul 12, 2016 @ 06:32:21

    Ass.ww.
    Yth. Ustad Drs. Suparlan , MEd.
    sangat bermanfaat tulisan an informasinya
    bagi Guru guru
    bagi para wakasek
    bagi kepala sekolah
    saya angat berharap terus bertambah tulisan dan informasinya
    salam super sukses…
    Wassalam

    Reply

    • suparlan
      Jul 12, 2016 @ 07:06:19

      Terima kasih kembali. Insya Allah saya ingin menulis sepanjang hayat. Salam.

      Reply

  2. herlin
    Feb 04, 2015 @ 18:51:51

    Salam kenal pa suparlan..
    saya sedang belajar mengelola sekolah preschool.. Menurut bapak apa yg harus saya ketahui / lakukan terlebih dahulu yaa pa..? Terima kasih

    Reply

    • suparlan
      Feb 04, 2015 @ 23:10:37

      Pertama, Anda harus mengetahui bahwa PAUD dan Kindergaten adalah The Golden Age period in our life. Anda harus yakini bahwa perkembangan kecerdasan manusia terletak di periode kemeasan itu. Saya mendukung 1005 usaha Anda.

      Kedua, kerja sama dengan semua pihak. Dinas, Dewan Pendidikan, Komite Sekolah, dan tentu saja semua pemangku kepentingan sekolah. Untuk ini kumpulkan mereka dan informasikan gagasan Anda untuk mengelola preschool itu.

      Ketiga, memang gedung sekolah dan sarananya penting. Tetapi itu bisa dikembangkan sambil berjalan. Yang terpenting proses pembelajarannya. Di mana ya rencananya?

      Keempat, buat sekolah sebagai taman yang indah. Jangan Anda buat sekolah seperti JIS itu. Taman yang indah maksudnya tempat bermain yang menyenangkan bagi peserta didik. Dengan bermain, mereka mau belajar.

      Kelima, dasari niat suci untuk mencerdaskan kehidupan bangsa. Trims.

      Reply

  3. Suparlan Abdulbasir Salim
    Nov 20, 2014 @ 09:04:56

    Ada khabar bagus. Pak Menteri yang baru membuka kesempatan siapa saja untuk mengirimkan ide atau gagasan kepada beliau. Silahkan kirim ke adidenih@masmentri.net. Salam.

    Reply

  4. juhri
    Nov 20, 2014 @ 05:11:55

    terima kasih sebelumnya sy ucapkan, setelah sy membaca tulisan tersebut, banyak pelajaran yg sy dapatkan terkait dengan model sekolah yg baik, namun perlu kita sadari, bahwa banyak sekolah yg menamakan dirinya internasional school yg hanya mengisi intelektual siswa tapi kurang memperhatikan akhlaq dan prilaku siswanya yg mencerminkan karakter islami….

    Reply

  5. aji furqon
    Agu 26, 2014 @ 17:04:39

    bagus untuk referensi, bagus untuk dibaca, bagus untuk di laksanakan

    Reply

    • aji furqon
      Agu 26, 2014 @ 17:05:51

      bagus untuk referensi, bagus untuk dibaca, bagus untuk diwujdkan

      Reply

  6. SAMSUDIN
    Agu 20, 2014 @ 12:06:15

    ass.ww. P Suparlan Salam sy dari Jogja. Sya salah satu pembaca buku yang bapak tulis juga. Salam Kenal kembali pak dan sepertinya saya pernah ketemu bapak ketika ada program penguatan Komite Sekolah di Sragen sekian tahun yang lalu.
    R.L. Young Eelementary School , Pak Suparlan, bacaan saya tentang R.L Young elemantary School tentang historisnya belum lengkap sy baca. Pengalaman tentang pengelolaan sekolah menurut Young mungkin menarik untuk diimplementasikan dalam konteks budaya Indonesia. Misal terkait kepemimpinan sekolah. Kepemimpinan yang seperti apa yang diyakini dapat menjadi pendulum dalam pengembangan sekolah. Karakteristik kepemimpinannya mungkin tidak sama, atau bisa jadi dalam konteks ke Indonesiaan perlu dilihat values yang dianut oleh Young elementary school. Dalam konteks pendidikan nilai, seberapa kuat lembaga tersebut melahirkan pemimpin pemimpin bangsa yang kemudian benar benar menjadi the real leader di negaranya.Perlu ada informasi Ada berapa banyak lembaga yang dikelola oleh Young elementary dan sukses di wilayahnya atau dikembangkan di luar distriknya.
    Kasus JIS menjadi salah satu cerminan, kadang yang kita lihat hebat dan berkualitas ternyata kamuflase dan kemasan belaka. Oleh karena itu, menarik melihat kehebatan institusi lain, tetapi harus perlu lebih bijak dalam melakukan implementasi dalam tataran strategi operasioana.

    Reply

    • suparlan
      Agu 21, 2014 @ 02:17:37

      Terima kasih komentar Bapak. Bapak baca buku yang mana ya Pak? Berilah juga komentar. Mungkin saja kita sudah bertemu. Oleh karena itu mudah-mudahan pertemuan ini menjadi pertemuan yang lebih intensif. Terkait dengan artikel ini, saya memang tidak menjelaskan misalnya tentang latar belakang proses pendirian sekolah itu, seperti misalnya latar belakang pendirian sekolah Muhammadiyah di Sapen Yogyakarta, atau sekolah di Belitong yang diceritakan dalam novel Laskar Pelangi oleh Andrea Hirata. Titik berat tulisan itu adalah 7 karakteristik yang menyebabkan sekolah itu maju sampai saat ini, meski telah begitu lama berdiri. Dalam hal ini, saya telah menulis buku bertajuk “Pilar-Pilar Sekolah Efektif”, antara lain menjelaskan delapan pilar yang berpengaruh besar terhadap efektivitas sekolah menurut CCED (California Centre for Effective School). Kalau sudah terbit, silahkan beri komentar. Atau bahkan ada niat untuk menulis buku tentang apa saja? Saya bisa berkolaborasi. Kata para ahli, dalam era ini, yang diinginkan bukan seorang super star, tetapi yang super team. Salam.

      Reply

  7. NORA
    Agu 11, 2014 @ 12:37:15

    apakah disiplin merupakan hal terpenting dalam proses belajar mengajar? lalu kenapa ada sekolah yang membiarkan siswa nya telat datang ke sekolah tanpa ada sanksi?

    Reply

    • Suparlan Abdulbasir Salim
      Agu 16, 2014 @ 00:47:26

      Tentu saja disiplin sangat penting dalam proses pembelajaran. Tetapi disiplin hidup, karena disiplin mati hanya terjadi karena paksaan, karena ketakutan, karena tahun kena sanksi. Di mana pun dan kapan pun, disiplin itu sangat diperlukan. Bahkan bukan bukan dalam proses pembelajaran, tetapi dalam kehidupan. Kalau ada siswa siswa yang telat dibiarkan, maka itu artinya gurunya tidak memahami arti disiplin itu sendiri. Disiplin harus dibudayakan. Disiplin merupakan bagian dari budaya sekolah (school culture). Silahkan buka lama saya. Salam.

      Reply

  8. suparlan
    Agu 09, 2014 @ 03:10:21

    Makasih. Saya diingatkan pendapat Ho Chi Minh bahwa No teacher, no education; No education no social-economic development”.

    Reply

  9. abu hakim
    Agu 09, 2014 @ 01:00:44

    Guru penting untuk lebih meningkatkan profesionalisme, konsen pada dunia pendidikan

    Reply

  10. nsae neolaka
    Feb 23, 2014 @ 11:49:26

    terima kasih atas informasi ini krn sangat bermafaat bagi kami

    Reply

    • Suparlan Abdulbasir Salim
      Agu 29, 2014 @ 01:19:32

      Sekarang ini kan cukup banyak sekolah-sekolah yang baru didirikan atau dibangun dengan konsep terpadu di sekolah-sekolah berbasis keagamaan. Mudah-mudahan dapat menjadi inspirasi untuk diterapkan di sekolah yang baru didirikan tersebut. Salam.

      Reply

  11. Lentera Kecil
    Okt 20, 2013 @ 11:26:04

    Raymond L. Young Elementary sudah ada sebelum Indonesia merdeka. Selain itu konsep sekolah yang benar-benar untuk menimba ilmu juga diterapkan. Kita bisa belajar banyak dari sana.

    Reply

  12. Roslina
    Mei 02, 2013 @ 12:42:24

    Saya ingin sekali menciptakan suatu proses pembelajaran di kelas saya berbasis ICT atau komputer yang dilengkapi dengan infocus, tapi sungguh apa daya, sekolah saya memang berada di Jakarta tapi dinas pendidikan Jakarta Pusat belum mengirimkan infocus je sekolah saya, karena menurut sumber yang dapat dipercaya, jika suatu sekolah ingin meminta yg seperti itu harus mengeluarkan uang pelicin ke pihak2 tertentu spy permintaan kami segera dipenuhi. Apa itu termasuk prosedur yang benar??????

    Reply

    • Suparlan Abdulbasir Salim
      Agu 10, 2014 @ 15:00:30

      Memang sudah waktunya. Sekarang dikenal dengan “blended learning”, yakni gabungan antara “face to face learning” dengan “ICT learning”. Model “pelicin” itu mungkin dulu, tetapi sekarang masa masih seperti itu? Apa nggak takut KPK? Prosedur yang benar sudah barang tentu yang tak pakai pelicin. Salam.

      Reply

  13. laila rohmawati
    Des 23, 2012 @ 23:07:37

    trimakasih infonya, 🙂

    Reply

    • Suparlan Basir
      Des 26, 2012 @ 02:18:39

      Salam kenal. Terima kasih kembali. Tolong beri kometar lebih banyak dooong. Sekali lagi terima kasih.

      Reply

Komentar

Apabila Anda punya pertanyakan silakan kirimkan pertanyaan Anda ke http://masdik.com/pertanyaan/

*